Harmantajang.com – Melihat fenomena saat ini, Kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah, informasi yang simpang siur, kabar bohong yang cepat menyebar, awalnya bermula dari kata-kata, baik yang diucapkan maupun yang ditulis. Di Zaman Penuh Fitnah, Mari Menjaga Lisan dan Tulisan.
Lidah (lisan) tak Bertulang tapi Berbahaya
Lisan (lidah) merupakan anggota tubuh yang tidak bertulang, namun tuahnya terkadang lebih dahsyat dari seribu pedang, ia ibarat pisau bermata dua, bisa menjadi sebab masuknya seseorang ke syurga, atau sebaliknya menjadi sebab ia terjerumus dalam liang neraka.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda:
(رواه البخاري) «إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang menyebabkan kemurkaan Allah, yang ia anggap remeh, namun ia terjerumus ke dalam neraka karena kata itu.” (HR. Bukhari).
Di zaman media sosial, satu kata bisa menjatuhkan kehormatan orang lain. Satu status bisa memprovokasi ribuan orang. Bahkan satu pesan singkat bisa menyalakan api perpecahan. Maka hendaknya kita bijak memanfaatkan nikmat kecanggihan tekhnologi informasi ini.
Baca Juga: Larangan Berlebih-lebihan dalam Beragama!
Setiap Ucapan dan Tulisan Dicatat oleh Malaikat
Allah Ta’ala mengingatkan:
(ق: 18) مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidaklah seseorang mengucapkan suatu kata, kecuali di sisinya ada malaikat pengawas yang mencatat”.
Bukan hanya lisan, tulisan kita pun akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan pernah mengira bahwa karena hanya menulis di kolom komentar, lalu kita bebas menuduh, mencela, menyebar kebencian.
Setiap kata yang kita ucapkan atau tuliskan, akan kita pertanggung jawabkan di hari kiamat kelak, didatangkan dalam catatan amalan kita, mungkin kita sudah lupa dan lalai namun, ternyata tertulis lengkap tanpa kita sadari.
Allah berfirman:
(الصافات: 24) وَقِفُوهُمۡ إِنَّهُم مَّسۡـُٔولُونَ
“Tahanlah mereka (di padang mahsyar), sesungguhnya mereka akan ditanya (tentang semua amalnya)”.
Perintah untuk Selalu Berkata Baik
Kita diperintahkan untuk berkata benar dan menahan diri dari ucapan dusta, gibah, fitnah, dan cercaan.
Baca Juga: Akhirat bukan Akhir, Tapi Awal dari yang Kekal
Rasulullah bersabda:
(رواه البخاري) «مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ»
“Barang siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku akan menjamin surga baginya”.
Maka hendaknya kita berhati-hati, Kita Jangan asal bicara, jangan asal menulis. Jangan menjadi penyebar fitnah tanpa sadar. Jangan menjadi penyebab kehancuran umat karena satu tulisan yang tak bertanggung jawab.
Kalau kita melihat potret kehidupan para salaf, orang-orang salih yang telah mendahului kita, sungguh mereka sangatlah menjaga ucapan dan lisan-lisan mereka, karena rasa takut pada Allah.




