Harmantajang.com – Dalam kehidupan modern yang serba cepat ini, ketenangan hati: anugerah istimewa yang sering terlupakan. Banyak manusia cenderung memfokuskan perhatian pada aspek-aspek lahiriah kehidupan.
Kondisi Hati dan Jiwa Sering Luput
Namun, seringkali dalam pengejaran ini, satu aspek krusial justru luput dari perhatian: kondisi hati dan jiwa kita. Padahal, sebagaimana ditekankan, ketenangan hati adalah sebuah “privilege”.
Hak istimewa ini tidak Allah berikan kepada sembarang orang, melainkan hanya kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya. Allah membukakan pintu dunia dan rezeki kepada siapa saja, baik kepada yang dicintai-Nya maupun yang tidak dicintai-Nya.
Bahkan, kita sering menyaksikan bahwa orang-orang kafir pun bisa memiliki bagian dunia yang jauh lebih banyak. Namun, ada perbedaan mendasar.
Baca Juga: Tiga Pilihan Sikap ketika Didzalimi
Ketenangan Hati dan Jiwa itu Anugerah
Ketenangan hati dan jiwa adalah anugerah yang eksklusif bagi mereka yang dekat dengan Allah. Meskipun rezeki dunia mereka mungkin tidak sebanyak orang lain, kedekatan dengan Allah-lah yang menjadikan hati mereka tenang, tentram, dan bahagia.
Ironisnya, manusia masa kini lebih banyak memperhatikan penampilan luarnya, namun mengabaikan kondisi hatinya yang boleh jadi sedang sakit, kronis, bahkan telah mati tanpa ia sadari.
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 10 yang menyebutkan:
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ
Artinya: Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Pentingnya hati juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang sangat relevan, dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Hadis ini dengan jelas menunjukkan bagaimana hati adalah inti dari keberadaan kita, yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan.
Baca Juga: Mempersiapkan Kematian: Bekal Terbaik Seorang Mukmin Menghadap Allah
Allah tidak Melihat Rupa dan Hartamu
Lebih lanjut, Rasulullah juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Bukhari).
Pernyataan ini menegaskan bahwa nilai seorang hamba di mata Allah tidak diukur dari paras rupanya yang menawan atau tumpukan hartanya yang melimpah. Mengapa demikian?.
Karena dalam masalah harta dan rupa, kita tidak memiliki campur tangan di dalamnya; Allah-lah yang menentukannya bahkan sebelum kita lahir ke dunia ini. Tidak ada formulir yang kita isi untuk memilih bagaimana paras kita atau jenis kelamin apa yang kita inginkan.
Oleh karena itu, penilaian Allah fokus pada sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali kita: kondisi hati kita.Maka dari itu, memelihara dan membersihkan hati dari segala penyakit adalah investasi terbesar bagi kebahagiaan sejati dan kedekatan dengan sang Pencipta.
Ketenangan hati bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah anugerah ilahi yang menunjukkan adanya hubungan erat seorang hamba dengan Tuhannya.




