Home Aqidah Menjadi Hamba Dunia atau Hamba Tuhan?

Menjadi Hamba Dunia atau Hamba Tuhan?

Dunia
Dunia dan langit biru/Istock

Harmantajang.com – Kerap manusia tidak menyadari saat dirinya menjadi hamba dunia atau hamba tuhan?, begini pandangan islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah memberikan peringatan keras: 

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” (HR. Bukhari).

Peringatan ini menyoroti sebuah penyakit spiritual yang berbahaya, yaitu ketika manusia menjadikan harta dan kemewahan dunia sebagai tujuan utama hidupnya, hingga ia diperbudak olehnya. 

Kondisi ini membuat kebahagiaan, kesedihan, dan seluruh waktunya hanya berputar untuk mengejar dunia, sementara ia lupa mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Ciri-Ciri “Hamba Dunia”

Baca Juga: Sungai Taubat: Jalan Penyucian Dosa dan Kunci Meraih Rahmat-Nya

Ada beberapa ciri yang menunjukkan seseorang telah menjadi “hamba dunia”. Salah satunya adalah obsesi untuk mengoleksi barang-barang mewah secara berlebihan, seperti sepatu, jam tangan, atau batu cincin, hanya untuk memuaskan gengsi dan gaya hidup. 

Terkadang, seseorang bahkan rela memberatkan diri (takalluf) demi mendapatkan barang-barang tersebut. Ciri lainnya adalah kondisi emosional yang sangat bergantung pada materi. 

Nabi Muhammad menjelaskan bahwa orang seperti ini akan merasa senang dan ridha jika mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi akan murka dan tidak terima jika tidak mendapatkannya. 

Sifat ini serupa dengan yang digambarkan Al-Qur’an mengenai orang-orang munafik, yang akan mengejek orang beriman yang bersedekah sedikit dan menuduh riya’ (pamer) orang yang bersedekah banyak. Mereka hanya senang jika diberi bagian, namun akan marah jika tidak mendapatkannya.

Keseimbangan: Bekerja untuk Dunia, Berorientasi pada Akhirat

Peringatan untuk tidak menjadi hamba dunia bukan berarti Islam melarang umatnya untuk mencari nafkah atau memiliki harta. Allah sendiri berfirman untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian kita di dunia. 

Mereka yang tercela adalah ketika kesibukan duniawi melalaikan kita dari kewajiban kepada Allah, seperti shalat, zakat, dan membantu sesama.Para nabi pun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. 

Nabi Muhammad berdagang, Nabi Musa menjadi penggembala, dan Nabi Daud AS, meskipun seorang raja, makan dari hasil kerajinan tangannya sebagai pandai besi. Ini menunjukkan bahwa bekerja dan berusaha adalah sebuah kemuliaan dan bagian dari ajaran Islam.

Konsep Rezeki dan Tawakal yang Sebenarnya

Baca Juga: Ayat Seribu Dinar: Kunci Ketakwaan, Rezeki, dan Tawakal kepada Allah

Islam mengajarkan konsep tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah, namun tawakal tidak menafikan usaha. Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang bertawakal dengan seekor burung yang pergi di pagi hari dengan perut kosong dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. 

Burung itu tidak hanya diam di sarangnya, tetapi ia terbang, berusaha, dan mencari sebab-sebab datangnya rezeki.Rezeki itu sendiri terbagi menjadi dua: rezeki yang kita cari dan rezeki yang mencari kita. 

Allah dengan keadilan-Nya tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya, namun ada pula rezeki yang memang sudah ditetapkan untuk kita tanpa perlu usaha yang teramat keras. Karena itu, kita tidak perlu terlalu cemas, sebab Allah-lah yang Maha Membagi rezeki kepada manusia.

Hikmah di Balik Ketetapan Allah

Terkadang, Allah SWT menahan rezeki dunia dari seorang hamba bukan karena kebencian, melainkan justru karena cinta-Nya. Ini diibaratkan seperti kita yang melindungi anggota keluarga yang sakit dari makanan atau minuman tertentu yang bisa membahayakan kesehatannya. Kita melarangnya bukan karena benci, tetapi karena sayang.

Allah Maha Mengetahui kondisi setiap hamba-Nya. Ada hamba yang jika diberi kekayaan, ia akan rusak. Sebaliknya, ada hamba yang jika diberi kemiskinan, ia juga akan rusak. Oleh karena itu, jika doa kita untuk kelapangan rezeki belum terkabul, boleh jadi Allah sedang melindungi kita dari keburukan yang mungkin timbul dari kekayaan tersebut.

Pada akhirnya, kunci kebahagiaan seorang mukmin terletak pada kemampuannya untuk hidup di antara dua sifat mulia: bersyukur (syukur) saat mendapatkan nikmat dan bersabar (sabar) saat menghadapi ujian. Dengan demikian, hidupnya akan senantiasa terasa tenang, bahagia, dan penuh makna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here