Harmantajang.com – Sunnatullah adalah ketetapan, hukum, dan pola tetap yang Allah tetapkan, untuk itu mari belajar agar selamat dunia dan akhirat.
Sunnatullah sebagai Pedoman Hidup
Salah satu bentuk keberkahan Al-Qur’an adalah penyampaian pesan-pesan Allah mengenai Sunnatullah. Sunnatullah adalah aturan dan panduan yang ditetapkan Allah yang berlaku dan berulang dalam sejarah perjalanan alam semesta.
Ketetapan ini merupakan pedoman hidup bagi manusia yang menggunakan akal pikirannya untuk menemukan jalan kebahagiaan dan kesuksesan sejati di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk “berjalan” melintasi sejarah.
Dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 137, Allah berfirman:
قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ
Artinya: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Bukti Nyata Sunnatullah Kebinasaan
Sejarah umat terdahulu memberikan bukti nyata bahwa kedurhakaan dan kemaksiatan pasti akan berujung pada kebinasaan:
Pertama, Kesyirikan dan Pendustaan: Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam dibinasakan dan ditenggelamkan karena mendustakan ayat-ayat Allah dan menyekutukan-Nya. Kesyirikan pasti berujung kebinasaan.
Kedua, Perilaku Nista: Kaum Nabi Luth ‘alaihissalam yang tenggelam dalam perilaku LGBT (homoseksual dan lesbianisme) ditimpa azab yang pedih (hujan batu), kecuali Nabi Luth dan keluarganya yang beriman.
Baca Juga: Di Bawah Pengawasan Allah: Membangun Ihsan Melalui Muraqabah
Ketiga, Kekuasaan Zalim dan Angkuh: Firaun, meskipun sukses membangun Mesir dari sisi kemakmuran pangan dan infrastruktur hebat (bukti arkeologisnya adalah Piramida), kekuasaannya runtuh karena kezhaliman, keangkuhan, dan pengakuannya sebagai tuhan tertinggi. Kekuasaan yang zalim, culas, dan angkuh pasti akan berakhir keruntuhan.
Ketetapan Allah bahwa makar yang jahat tidak akan menimpa kecuali pelakunya sendiri yang durhaka akan binasa, yang maksiat akan celaka, dan yang zalim akan runtuh dan hancur; ini adalah kepastian yang tak pernah berubah.
Sunnatullah Kemenangan dan Kebahagiaan
Untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan, jalan yang harus ditempuh adalah sebaliknya, yaitu berusaha taat dan tunduk sepenuhnya pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh kekuasaan, peneguhan agama, dan keamanan.
Adapun kriteria utama untuk mencapai Sunnatullah kemenangan dan kebahagiaan adalah:
Pertama, Menyatakan Keimanan dan Menegakkan Tauhid: Iman dan Tauhid adalah syarat utama kesuksesan dan kebahagiaan manusia dalam skala pribadi maupun sosial.
Pencapaian duniawi tanpa Iman dan Tauhid akan selalu gagal membawa kepada kebahagiaan sejati, sebagaimana yang terjadi pada Firaun dan Namrudz.
Baca Juga: Menata Niat: Pentingnya Ikhlas dalam Setiap Ketaatan
Kedua, Melakukan Amal Shalih dengan Segala Bentuknya: Amal saleh adalah pembuktian nyata terhadap Iman dan Tauhid, dengan pilar utamanya adalah shalat dan zakat.
Seorang yang beriman dan bertauhid akan menunaikan tugas dan jabatan dengan penuh amanah, tidak menjadikannya jalan untuk memperkaya diri sendiri atau kroninya, mencontoh Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Ini karena keyakinan bahwa Allah selalu mengawasi (meski tiada manusia yang melihat).
Jalan Kembali kepada Allah (Taubat)
Tidak ada solusi bagi masalah pribadi dan sosial selain segera kembali kepada petunjuk Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menyeru hamba-hamba-Nya yang melampaui batas agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya, karena Allah mengampuni semua dosa.
Pesan utama adalah agar seluruh lapisan masyarakat (pemimpin, pejabat, kepala keluarga, suami, istri, pemuda) segera kembali kepada Allah, menyegerakan taubat yang ikhlas, dan beristighfar sebanyak-banyaknya.
Dengan meminta ampun dan bertaubat, Allah akan memberikan kenikmatan yang baik secara terus-menerus hingga waktu yang ditentukan.




