Harmantajang.com – Rasa malu adalah benteng pertama penjaga akhlak manusia, saat hilangnya rasa malu, awal rusaknya akhlak. Ia hadir sebagai suara hati yang menahan seseorang dari perbuatan tercela, meski tak ada mata yang melihat dan telinga yang mendengar.
Ketika rasa malu masih hidup, manusia akan berpikir berulang kali sebelum melanggar batas, karena ia sadar bahwa Allah Maha Melihat dan nuraninya masih peka terhadap dosa.
Kedudukan Rasa Malu sebagai Ibadah dan Sumber Kebaikan
Rasa malu dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, melampaui sekadar tuntutan sosial; ia adalah ibadah dan amal shalih serta merupakan jalan menuju keimanan kepada Allah.
Rasulullah menegaskan bahwa rasa malu adalah salah satu cabang keimanan dan merupakan bagian dari iman yang tempatnya adalah di Surga. Dengan demikian, rasa malu menjadi bagian penting dalam upaya menjaga dan memperbaiki keimanan.
Baca Juga: Kesabaran: Kunci Tenang di Tengah Ujian Hidup
Selain itu, rasa malu juga berfungsi sebagai pilar fundamental dalam membangun peradaban dan kehormatan, dan merupakan landasan terwujudnya kebaikan karena “Rasa malu itu tidak menghadirkan kecuali kebaikan”.
Bahkan dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ
Artinya: Biarkan dia, karena malu termasuk iman.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban).
Konsekuensi dan Bukti Kerusakan Akibat Hilangnya Rasa Malu
Hilangnya rasa malu dari kehidupan seorang individu atau masyarakat adalah indikator penting hilangnya kebaikan, yang pada akhirnya akan menghadirkan kebobrokan, penderitaan, dan kehancuran.
Rasa malu bertindak sebagai benteng, dan ketika benteng ini rusak, manusia cenderung menjadi bebal dan melakukan apa yang mereka mau (“Jika kamu tidak malu, maka perbuatlah apa yang kamu mau!”). Fenomena hilangnya rasa malu saat ini terwujud dalam:
Pertama, Korupsi Masif: Korupsi yang terjadi dari lapisan atas hingga bawah disebabkan oleh para pelakunya yang telah kehilangan rasa malu, atau disebut juga sudah tidak memiliki Siri’ dalam tradisi Bugis-Makassar.
Mereka bahkan masih bisa tersenyum saat tertangkap tangan, diajukan di meja hijau, atau divonis.
Kedua, Merebaknya Perzinahan: Perzinahan termasuk “selingkuh” yang merupakan dosa besar dengan hukuman berat (cambuk 100 kali atau rajam sampai mati jika sudah menikah) saat ini dilakukan oleh pelakunya tanpa malu.
Baca Juga: Merawat Tauhid: Menjaga Kemurnian Hati dari Syirik
Bahkan sebagian mempublikasikan dan menceritakannya di depan publik dengan bangga. Ketiga, Perilaku Menyimpang: Perilaku seks menyimpang (kaum LGBT) juga dimulai dari tidak adanya rasa bersalah, yang kemudian diikuti dengan hilangnya rasa malu.
Makna Malu yang Sebenar-benarnya
Mengingat pentingnya rasa malu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan, “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu!”.
Malu yang sejati (Ḥaqqa al-Ḥayā’) tidak hanya sebatas perasaan, tetapi mencakup amalan dan kesadaran mendalam. Malu yang sebenar-benarnya malu diartikan sebagai:
Pertama, Menjaga kepala dan apa yang meliputinya (seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan). Kedua, Menjaga perut serta apa yang diseputarnya (terkait sumber penghidupan dan makanan).
Ketiga, Selalu mengingat mati dan kebinasaan. Keempat, bagi yang menginginkan Akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia.
Semakin jauh seseorang dari jalan para Nabi dan Rasul karena hilangnya rasa malu, maka ia sedang mengukir kehancuran dan kebinasaannya di dunia sebelum di Akhirat.




