Harmantajang.com – Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya dalam hati: bagaimana jika Ramadan yang mungkin tak kembali untuk kita?. Bukan Ramadannya yang berhenti datang, tetapi kitalah yang tak lagi diberi kesempatan menyambutnya.
Jika benar ini Ramadan terakhir, apakah kita sudah memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh? Sudahkah kita menikmati sujud yang mungkin tak akan terulang? Sudahkah kita menangisi dosa-dosa di hadapan Allah dengan sebenar-benarnya taubat?.
Nikmat Terbesar: Hidayah dan Kesempatan Beribadah
Dalam kehidupan ini, Allah menganugerahkan begitu banyak nikmat kepada manusia.
Namun, di antara seluruh nikmat tersebut, ada satu nikmat yang paling agung dan paling menentukan masa depan seorang hamba: nikmat hidayah dan kesempatan untuk beribadah kepada-Nya.
Baca Juga: Ramadan: Momentum Emas Menuju Derajat Takwa
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).
Ayat ini menegaskan bahwa nikmat Allah tidak terhitung jumlahnya. Kesehatan, keluarga, rezeki, dan berbagai kemudahan hidup adalah bagian dari karunia-Nya.
Namun, semua itu tidak akan bernilai kekal tanpa hidayah. Sebab nikmat terbesar bukanlah kenikmatan dunia yang sementara, melainkan nikmat yang mengantarkan pada kebahagiaan abadi di akhirat.
Ramadan: Karunia yang Tidak Semua Orang Dapatkan
Di antara bentuk nyata nikmat hidayah itu adalah ketika Allah kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadan. Tidak semua orang yang tahun lalu bersama kita masih diberi kesempatan untuk merasakan Ramadan tahun ini.
Ada yang merindukannya, berharap dapat kembali berpuasa dan bersujud di malam-malamnya, tetapi waktu mereka di dunia telah habis.
Ramadan adalah undangan istimewa dari Allah. Ketika kita masih diberi umur untuk menjumpainya, itu berarti Allah memilih kita sebagai hamba yang mendapatkan kesempatan memperbaiki diri.
Kini, ketika Ramadan telah memasuki hari-hari terakhirnya, kita harus bertanya kepada diri sendiri: jejak apa yang telah kita tinggalkan?.
Jika dua pertiga Ramadan berlalu tanpa perubahan berarti, maka sepuluh hari terakhir adalah kesempatan emas untuk menebusnya.
Baca Juga: Air Wudhu Tertelan, Apakah Puasa Batal?
Letakkan dalam pikiran dan hati keyakinan bahwa ini bisa jadi Ramadan terakhir dalam hidup kita. Bukan Ramadannya yang pergi, tetapi kitalah yang mungkin dipanggil lebih dulu meninggalkan dunia.
Beribadah Seperti Perpisahan Terakhir
Seperti suatu ketika Rasulullah memimpin salat, beliau mengatakan kepada para sahabatnya:
إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَاجْمَعْ الْإِيَاسَ مِمَّا فِي يَدَيْ النَّاسِ
“Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatlah seperti shalat terakhir, jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu minta maaf di kemudian hari dan kumpulkan keputus-asaan terhadap apa yang ada pada manusia”.
Hadis ini mengajarkan kesungguhan total dalam ibadah. Jika seseorang yakin bahwa shalat itu adalah shalat terakhirnya, tentu ia akan melaksanakannya dengan penuh kekhusyukan, keikhlasan, dan kesempurnaan.
Demikian pula Ramadan. Bayangkan jika ini adalah Ramadan terakhir kita. Tidak ada lagi tarawih setelah ini. Tidak ada lagi sahur dan buka puasa. Tidak ada lagi kesempatan memperbanyak tilawah, di bulan penuh ampunan.
Maka selama kesempatan itu masih ada, manfaatkanlah Ramadan dengan kesungguhan seorang hamba yang sadar bahwa waktunya di dunia bisa berakhir kapan saja.




