Home Aqidah Mengenal Hikmah di Balik Takdir: Menyelami Rahasia Ketetapan Allah

Mengenal Hikmah di Balik Takdir: Menyelami Rahasia Ketetapan Allah

Menulis
Ilustrasi seprang sedang menulis/Istock

Harmantajang.com – Kehidupan manusia sering kali dipenuhi dengan tanda tanya mengenai masa depan dan alasan di balik peristiwa yang menimpa mereka. Sebagai hamba, memahami batasan pengetahuan manusia dan luasnya ilmu Allah adalah kunci untuk meraih ketenangan batin.

Keterbatasan Manusia dalam Perkara Gaib

Hanya Allah yang memiliki pengetahuan mutlak atas segala sesuatu yang gaib di langit dan di bumi. Bahkan, para Nabi dan Rasul pun tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang telah diridhai dan diwahyukan oleh Allah kepada mereka.

Sebagai contoh, Rasulullah menegaskan bahwa andaikata beliau mengetahui perkara gaib, tentu beliau akan memperbanyak kebaikan dan menghindar dari segala keburukan, termasuk tidak akan membawa para sahabat ke medan Perang Uhud jika mengetahui mereka akan gugur.

Baca Juga: Mencintai Sahabat Nabi: Fondasi Iman dan Aqidah yang Kokoh

Karena itulah, umat Islam dilarang keras untuk mendatangi tukang ramal atau dukun. Mempercayai ramalan nasib berdasarkan tanggal lahir, bintang, atau telapak tangan dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap apa yang diturunkan kepada Rasulullah.

Shalat seseorang bahkan tidak akan diterima selama 40 hari jika hanya sekadar bertanya kepada peramal.

Mengimani Takdir sebagai Kunci Ketenteraman Hati

Setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi maupun yang menimpa diri manusia, baik itu suka maupun duka, telah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh jauh sebelum hal itu diciptakan.

Keimanan terhadap takdir baik yang manis maupun yang pahit bertujuan agar manusia tidak berlarut-larut dalam duka cita atas apa yang luput darinya, serta tidak sombong atas apa yang ia dapatkan.

Seorang mukmin harus memiliki keyakinan bahwa tidak ada musibah yang diturunkan kecuali ada kebaikan yang diinginkan Allah di baliknya.

Baca Juga: Ingat, Tiga Pilar Utama Menuju Hati Penghuni Surga

Sebagaimana pesan Rasulullah kepada Ibnu Abbas, apa yang telah ditakdirkan untuk seseorang tidak akan pernah meleset, dan apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan pernah menimpanya karena “pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”.

Kelezatan hidup hanya dapat dirasakan oleh mereka yang meyakini bahwa segala manfaat dan mudarat sepenuhnya berada dalam genggaman Allah.

Melibatkan Allah dalam Urusan Melalui Istikharah dan Prasangka Baik

Sering kali manusia membenci sesuatu padahal itu baik baginya, atau menyukai sesuatu padahal itu buruk baginya,. Untuk menghadapi ketidakpastian ini, Rasulullah mengajarkan shalat istikharah sebagai sarana melibatkan Allah dalam setiap keputusan.

Dalam doa istikharah, seorang hamba mengakui keterbatasan ilmunya dan memohon agar Allah menakdirkan yang terbaik bagi agama dan dunianya. Hikmah di balik ketetapan Allah yang tampak buruk di mata manusia sering kali baru terungkap di kemudian hari.

Hal ini tercermin dalam kisah Nabi Musa dan Khidir, di mana Khidir membunuh seorang anak atas perintah Allah untuk mencegah kekufuran yang akan dilakukan anak tersebut kepada orang tuanya di masa depan.

Meskipun awalnya Nabi Musa tidak menyukai tindakan tersebut, ia akhirnya memahami hikmah di baliknya. Dengan melibatkan Allah, seseorang tidak akan pernah menyesal karena ia telah menggantungkan hatinya pada Dzat Yang Maha Mengetahui segalanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here