Home Tazkiyah Menjaga Hati dari Tiga Kehancuran: Menelusuri Akar Kerusakan Diri

Menjaga Hati dari Tiga Kehancuran: Menelusuri Akar Kerusakan Diri

Galau
Ilustrasi seorang sedang stres/Unplash

Harmantajang.com – Banyak orang sering membayangkan kehancuran hidup sebagai musibah yang datang dari luar, seperti kebangkrutan usaha, kehilangan pekerjaan, penyakit berat, atau bencana yang datang tiba-tiba.

Padahal, terdapat bentuk kehancuran yang tak kasatmata yang berlangsung jauh di dalam diri manusia, bahkan ketika kehidupan di luar tampak lancar dan bergelimang harta.

Rasulullah  telah mengingatkan tentang  tiga perkara yang dapat membinasakan kehidupan manusia di dunia dan akhirat, yaitu:

Kekikiran dan Kerakusan yang Ditaati

Penghancur pertama bekerja ketika sifat kikir dan rakus menguasai hati melebihi sekadar keengganan untuk bersedekah. Sifat  ini mencakup kecintaan berlebihan pada harta, ketamakan untuk terus menambah kekayaan, serta rasa berat melepaskan apa yang dimiliki.

Ketika penyakit ini ditaati, uang berubah menjadi tolok ukur utama dalam menilai kehormatan, persaudaraan, bahkan mengaburkan batas antara halal dan haram.

Dampak nyata dari kerakusan ini terlihat pada hubungan kekeluargaan yang retak, seperti anak-anak yang saling bersengketa atas tanah warisan setelah orang tua meninggal dunia.

Baca Juga: Tafsir Surah Ad-Duha: Hiburan Allah untuk Rasulullah

Di dunia bisnis dan kerja, kerakusan mendorong seseorang melakukan penipuan, menyembunyikan cacat barang, hingga mengurangi hak pegawai demi keuntungan instan.

Allah menggambarkan akibat buruk dari sifat kikir dalam Al-Qur’an melalui kisah para pemilik kebun yang berniat memanen tanpa membagikan hak fakir miskin, namun kebun mereka hancur diliputi bencana dalam semalam.

Keberkahan harta tidak diukur dari angkanya, melainkan dari keterjagaan diri dari sifat kikir.

Penawar bagi penyakit ini adalah membiasakan diri memberi dan menyadari bahwa seluruh harta sesungguhnya hanyalah titipan sementara yang tidak akan menyertai manusia ke liang kubur.

Hawa Nafsu yang Diikuti

Penghancur kedua adalah sikap selalu menuruti hawa nafsu yang menawarkan kenikmatan sesaat di awal.

Maksiat jarang hadir secara terang-terangan sebagai sebuah bentuk kehancuran, melainkan menyusup melalui pintu-pintu kecil hingga hati menjadi terbiasa.

Jika terus dituruti, hawa nafsu dapat menguasai diri manusia hingga dijadikan sebagai sesembahannya. Di era modern, jalan menuju kemaksiatan menjadi sangat pendek melalui perantara layar ponsel pintar.

Dari tempat tidur atau ruang kerja, seseorang dapat berpindah dari satu maksiat ke maksiat lain hanya dengan gerakan jempol. Contoh nyatanya adalah maraknya perjudian daring yang memicu konflik keluarga, krisis keuangan, utang bertumpuk, hingga tindakan kriminal.

Kemenangan seorang mukmin bukan terletak pada terpenuhinya seluruh keinginan, melainkan saat ia mampu berkata kepada dirinya untuk berhenti demi keridhaan Allah.

Penawar bagi penyakit ini adalah mujahadah (bersungguh-sungguh melawan keinginan buruk) serta berani memutus akses dan jalur pergaulan atau aplikasi yang mengarahkan pada kemaksiatan

Rasa Kagum pada Diri Sendiri

Penghancur ketiga adalah rasa kagum terhadap diri sendiri sebuah penyakit hati yang sangat tersembunyi.

Seseorang yang dijangkiti ‘ujub’ merasa keberhasilan, kedudukan, atau keahlian yang diraih semata-mata karena kecerdasannya, atau bahkan menggunakan ilmu agamanya untuk memandang rendah orang lain.

Baca Juga: Syukur di Tengah Ujian: Belajar dari Mereka yang Lebih Susah

Perasaan “aku lebih baik dari dia” merusak keikhlasan dan membuat seseorang merasa suci, padahal Allah melarang hamba-Nya menganggap diri mereka paling suci.

Tantangan ini menjadi semakin halus di era media sosial, ketika amal ibadah, kesalehan, dan gaya hidup mudah dijadikan ajang pencitraan dan pencarian pujian manusia.

Penawar bagi penyakit ‘ujub adalah menyadari bahwa seluruh nikmat, ilmu, dan kemampuan beribadah murni merupakan karunia serta pertolongan dari Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here