Harmantajang.com – Satu ucapan yang keluar dari mulut tidak selalu berhenti ketika suara itu selesai terdengar. Ia dapat meninggalkan kesan, membangun kepercayaan, menyembuhkan hati, bahkan mengubah kehidupan seseorang.
Sebaliknya, satu perkataan yang buruk dapat melukai perasaan, menghancurkan persahabatan, menimbulkan fitnah, dan memicu pertengkaran yang panjang.
Anugerah Lisan dan Tanggung Jawabnya
Setiap mukmin hendaknya menyadari bahwa di antara sekian banyak nikmat Allah yang amat agung namun sering kali kurang disyukuri adalah nikmat lisan.
Melalui lisan inilah seorang hamba mengucapkan dua kalimat syahadat, melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, berzikir, berdoa, mengajarkan ilmu, hingga mendamaikan perselisihan antarsesama.
Baca Juga: Menjaga Hati dari Tiga Kehancuran: Menelusuri Akar Kerusakan Diri
Secara fisik, lisan berukuran amat kecil, ringan digerakkan, dan tidak memerlukan tenaga besar untuk menggunakannya. Namun demikian, dampak dan akibat yang ditimbulkannya sangat luar biasa.
Lisan diibaratkan seperti pedang; apabila digunakan dengan benar akan mendatangkan kemanfaatan dan merajut perdamaian, tetapi jika dilepaskan tanpa kendali dapat merusak ketenteraman serta melukai hubungan persaudaraan.
Oleh sebab itu, keselamatan seorang hamba sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mengendalikan ucapan.
Bahaya Ucapan dan Petaka yang Tersembunyi
Di balik potensi kebaikannya yang besar, lisan yang tidak terjaga menyimpan petaka yang sanggup membinasakan pemiliknya di dunia dan akhirat.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah menegaskan kepada Mu’adz bin Jabal RA bahwa sebab utama yang menyeret mayoritas manusia ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka adalah “hasil panen lisan” mereka.
Sebagaimana seorang petani memanen apa yang ditanamnya, setiap patah kata yang kita lepaskan hari ini pasti akan menghasilkan panen di akhirat kelak baik berupa pahala yang melimpah maupun dosa yang membakar.
Bahkan sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa sembilan puluh persen dosa manusia berasal dari lisan. Betapa banyak bencana terjadi hanya karena ketidakhati-hatian dalam berbicara.
Satu perkataan yang keluar tanpa dipikirkan dapat memicu penyesalan bertahun-tahun, merusak ikatan persahabatan, serta meretakkan keharmonisan rumah tangga.
Keteladanan Para Salaf dan Jalan Praktis Penjagaan Diri
Merapikan lisan membutuhkan kesungguhan dan keteladanan dari generasi terbaik. Para sahabat dan ulama salaf senantiasa memandang persoalan lisan dengan rasa takut yang mendalam:
Abu Bakar ash-Shiddiq RA pernah memegang lisannya seraya berkata: “Inilah yang menyeretku ke berbagai tempat yang berbahaya”.
Umar bin Khattab RA mengingatkan: “Barang siapa banyak berbicara, banyak pula kesalahannya; dan barang siapa banyak kesalahannya, banyak pula dosanya”.
Abdullah bin Mas’ud RA menegaskan: “Tidak ada sesuatu yang lebih membutuhkan penjara yang panjang daripada lisan”.
Ibnu Abbas RA menasihati lisannya sendiri: “Berkatalah yang baik, niscaya engkau beruntung. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat”.
Al-Hasan Rahimahullah menyatakan: “Tidak sempurna pemahaman agamanya orang yang tidak menjaga lisannya”.
Ibn Wahb Rahimahullah mendidik dirinya dengan bernazar bersedekah satu dirham setiap kali menggunjing (ghibah), hingga rasa sayangnya pada harta berhasil menghentikan kebiasaan ghibah tersebut.




