Home Adab & Akhlak Ketika Iman Menjadi Fondasi Keberkahan Rumah Tangga

Ketika Iman Menjadi Fondasi Keberkahan Rumah Tangga

Rumah
Ilustrasi sebuah Rumah indah/Istock

Harmantajang.com – Rumah adalah tempat sejatinya manusia kembali setelah menempuh kepenatan hidup sehari-hari. Di dalam rumah, tubuh beristirahat, anak-anak bertumbuh, serta suami dan istri saling berbagi suka dan duka.

Setiap manusia merindukan rumah yang menjadi oase ketenteraman sebuah tempat di mana hati merasa aman, diterima, serta saling menguatkan.

Namun, kenyataan di sekitar kita menunjukkan bahwa rumah yang megah dan mewah sekalipun bisa terasa sangat sempit bagi jiwa.

Tidak sedikit keluarga yang tinggal di bawah satu atap tetapi hidup bak orang asing; duduk di ruangan yang sama namun hati mereka saling menjauh.

Mendasarkan Rumah Tangga di Atas Keimanan dan Ketaatan

Rumah Sebagai Sakan dan Hakikat Keberkahan Secara hakiki, rumah bagi seorang mukmin bukan sekadar bangunan fisik tempat berlindung dari panas dan hujan.

Rumah harus menjadi sakan sebuah tempat di mana jiwa menemukan ketenangan dan merasa terlindungi dari kekerasan lisan, penghinaan, maupun permusuhan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membocorkan rahasia utama hadirnya keberkahan dalam kehidupan melalui firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96).

Baca Juga: Waktu Habis, Penyesalan Tak Lagi Berarti!

Ayat ini menegaskan bahwa keberkahan tidak dapat dipisahkan dari iman dan takwa.

Ketika merindukan rumah tangga yang penuh berkah, perhatian utama seorang muslim bukanlah semata-mata memperluas bangunan atau menambah penghasilan.

Menghidupkan Rumah dengan Al-Qur’an, Shalat, dan Dzikir

Menerangi Rumah dengan Kitabullah Penyebab utama hadirnya kedamaian di dalam rumah adalah ketika rumah tersebut dihidupkan dengan lantunan Al-Qur’an. Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang penuh berkah (mubarak):

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكُ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya membiarkan rumah dalam keadaan sunyi dari ibadah bagaikan area pekuburan:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim).

Menghidupkan Al-Qur’an tidak harus menunggu seluruh anggota keluarga menjadi penghafal Al-Qur’an. Kebiasaan ini dapat dimulai dari langkah langkah kecil.

Seorang ayah membaca beberapa ayat setelah shalat, ibu membiasakan tilawah harian, serta anak-anak dibiasakan mendengar lantunan kalam ilahi.

Selain itu, hendaknya kita bijak mengendalikan penggunaan gawai dan media agar suara hiburan tidak mendominasi dan menggeser lantunan Al-Qur’an dari ruang-ruang rumah kita.

Mendirikan Shalat Sunnah dan Menjaga Dzikir Harian Bagi kaum laki-laki, shalat fardhu memang utama dilaksanakan secara berjamaah di masjid.

Menjaga Lisan dan Menampilkan Akhlak Mulia Kepada Keluarga

Menjaga Lisan dari Celah Provokasi Setan Keberkahan sebuah rumah tangga sangat dipengaruhi oleh bagaimana para penghuninya saling bertegur sapa dan berkomunikasi.

Baca Juga: Satu Ucapan, Seribu Akibat: Menjaga Lisan

Banyak perselisihan besar dalam keluarga yang awalnya bersumber dari lisan yang tidak dijaga seperti sindiran yang diulang-ulang, bentakan, ejekan, atau kata-kata yang merendahkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan celah ini dalam firman-Nya:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra’: 53).

Islam menuntut seorang muslim untuk tidak sekadar berbicara baik, tetapi memilih tutur kata yang paling baik (allatii hiya ahsan). Apabila ada nasihat yang ingin disampaikan, berikanlah tanpa menghina. Teguran boleh diberikan, tetapi tanpa merendahkan harga diri pasangan maupun anak-anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here