Harmantajang.com – Memaafkan adalah salah satu ajaran teragung dalam Islam, namun melupakan kesalahan orang lain menuntut kedewasaan iman yang lebih tinggi.
Dalam interaksi sosial, ketidaksempurnaan manusia sering kali melahirkan kekecewaan atau rasa sakit hati. Melalui petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah, kaum muslimin diajarkan untuk tidak hanya mengampuni kesalahan di lisan, tetapi juga membersihkan ganjalan di dalam hati.
Memahami Perbedaan Memaafkan (Al-‘Afwu) dan Melupakan (As-Safhu)
Dalam Islam dan petunjuk Al-Qur’an, terdapat tingkatan dalam menyikapi kesalahan sesama. Allah tidak hanya memerintahkan hamba-Nya untuk sekadar al-‘afu (memaafkan), tetapi juga as-safhu (melupakan atau melapangkan dada):
Memaafkan (Al-‘Afwu): Berarti menggugurkan hak untuk membalas atau menggugurkan tuntutan atas kesalahan seseorang.
Seseorang mungkin sudah memaafkan secara lisan, namun terkadang masih menyisakan rasa canggung atau ganjalan di hati.
Kemduian, Melupakan (As-Safhu): Berada pada tingkatan yang lebih tinggi daripada sekadar memaafkan. As-safhu berarti membuka lembaran baru dan bersikap seolah-olah kesalahan tersebut tidak pernah terjadi.
Baca Juga: Dunia yang Memikat, Tapi Akhirat yang Mengikat!
Para ulama menyebut akhlak mulia ini berkaitan erat dengan sifat taghafulyaitu sikap bijak untuk “cuek” dan tidak terlalu memperhitungkan atau mengungkit-ungkit kesalahan saudara, pasangan, maupun kerabat.
Sifat taghaful ini menjadi kunci utama penyelesaian hingga 90% masalah dalam kehidupan berumah tangga maupun bermasyarakat.
Keteladanan dari Abu Bakar Ash-Siddiq r.a.
Perintah untuk memaafkan dan melupakan secara khusus tertuang dalam Surah An-Nur ayat 22, yang memiliki latar belakang sejarah (sebab nuzul) yang amat menyentuh.
Ayat ini turun berkait dengan peristiwa Haditsatul Ifk (berita dusta) yang dimotori oleh orang-orang munafik untuk memfitnah Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha.
Di antara orang-orang yang termakan isu dusta tersebut adalah Mistah ibn Utsatsah r.a., yang merupakan sepupu dekat Abu Bakar Ash-Siddiq r.a..
Mistah adalah seorang yang fakir, seorang Muhajirin, sekaligus veteran Perang Badar (Ahlu Badar) yang selama ini nafkah hidupnya dibantu oleh Abu Bakar.
Sebagai manusia biasa dan seorang ayah, Abu Bakar r.a. merasa sangat terpukul ketika putrinya difitnah oleh orang yang selama ini beliau bantu. Beliau pun bersumpah untuk tidak lagi memberikan bantuan nafkah kepada Mistah.
Baca Juga: Pintu Taubat Terbuka, Mengapa Masih Menunda?
Namun, Allah menurunkan teguran penuh kasih sayang melalui firman-Nya:
وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaknya mereka memaafkan dan berlapang dada (walya’fu walyasfahu) Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Mendengar ayat tersebut dibacakan oleh Rasulullah SAW, Abu Bakar r.a. seketika luluh dan menjawab, “Bala ya Rabbana” (Tentu wahai Rabb kami, kami ingin Engkau mengampuni kami).
Beliau tidak hanya memaafkan dan melupakan kesalahan Mistah, tetapi juga melanjutkan bantuan nafkahnya bahkan bersumpah tidak akan pernah memutusnya selamanya.
Keutamaan Jiwa Pemaaf dan Balasan Pengampunan Dosa
Seni memaafkan dan melupakan memberikan dampak spiritual yang sangat besar bagi seorang hamba:
Pertama, Prinsip Al-Jazau min Jinsil ‘Amal (Balasan Sesuai Jenis Amalan): Dalam Surah An-Nur ayat 22, Allah menanyakan: “Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampuni dosa-dosamu?”.
Barangsiapa yang memudahkan maaf bagi saudaranya di bumi, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya di akhirat.
Kedua, Mewarisi Sifat Penghuni Surga (Makhmumul Qalb): Orang yang mampu membersihkan hatinya dari dengki, iri, dan dendam digolongkan sebagai pemilik makhmumul qalb (hati yang bersih).
Sifat hati yang lapang dari rasa benci ini adalah salah satu ciri utama dari para penghuni surga.
Ketiga, Membendung Tipu Daya Setan (At-Tahrisy): Ketika setan berputus asa untuk membuat orang-orang beriman menyembahnya, langkah yang selalu dicobanya adalah at-tahrisy yakni merusak ukhuwah dan memicu perselisihan di antara sesama muslim.
Islam membatasi perselisihan maksimal 3 hari, dan menegaskan bahwa yang paling mulia di antara dua orang yang berselisih adalah yang pertama kali mengucapkan salam dan mengulurkan tangan perdamaian.



