Akhirat bukan Akhir, Tapi Awal dari yang Kekal

Ilustrasi Langit
Ilustrasi Langit di Sore Hari/Istock

Harmantajang.com – Sejak manusia dilahirkan sesungguhnya kita telah menjadi seorang musafir yang harus menempuh perjalanan menuju Allah dan Negeri Akhirat. Dan akhirat bukan akhir, tapi awal dari yang kekal.

Dunia Ibarat Terminal Persinggahan

Sebuah perjalanan yang batas waktunya sesuai dengan kadar umur dan usia yang Allah Ta’ala berikan kepada kita di dunia ini. Maka siang dan malam yang silih berganti, pekan demi pekan, bulan demi bulan hingga menjadi tahun demi tahun, semua itu ibarat terminal-terminal persinggahan kita.

Karena itu, usia dunia kita, entah itu panjang atau pendek, itulah satu-satunya kesempatan untuk bekerja dan berusaha. Dan hasil usaha itulah yang akan menentukan kisah kita selanjutnya di Negeri Akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ

Artinya:

“Wahai sang insan! Sesungguhnya engkau telah bekerja keras (di dunia ini) menuju (pertemuan dengan) Tuhanmu. Maka engkau pasti akan menemuiNya.” (Surah al-Insyiqaq: 6).

Baca Juga: Larangan Berlebih-lebihan dalam Beragama!

Orang Cerdas Ialah Mereka yang Memikirkan Akhiratnya

Maka orang yang beruntung dan cerdas adalah dia yang bersungguh-sungguh menyelesaikan episode-episode umurnya dengan yang membuatnya beruntung di Akhirat dan membuat Tuhannya ridha kepadanya.

Seperti itulah langkahnya hingga selesai episode keberadaannya di dunia ini dengan baik. Dan engkau harus menjauhi jalan manusia-manusia lalai yang sesat, yang semakin panjang dan lama berada di dunia ini.

Semakin bertambah dosa dan keburukannya, serta semakin jauh dari Sang Maha kuasa dan Maha mengetahui.  Hingga saat tiba di Negeri Akhirat, mereka tiba sebagai manusia-manusia bangkrut, wal ‘iyadzu billah.”

Sehingga Allah Ta’ala mengingatkan kita:

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى

Artinya:

“Dan sungguh Akhirat itu jauh lebih baik untukmu daripada Dunia ini.” (Surah al-Dhuha: 4).

Manusia adalah Seorang Musafir

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menggambarkan, bahwa pada dasarnya kita manusia ini, kita para musafir Negeri Akhirat ini, hanya ada kelompok:

Baca Juga: Berani Mengabaikan Al-Qur’an?, Ancamannya itu Nyata

Kelompok Pertama, adalah manusia-manusia yang sedang menempuh perjalanan menuju kampung segala kesengsaraan, yaitu Neraka Allah Ta’ala. Kelompok ini semakin jauh menempuh dan menyelesaikan episode dunianya, semakin dekat pula mereka dengan kampung kesengsaraan bernama Neraka itu.

Semakin lama hidup di dunia, mereka justru semakin jauh dari Allah dan menjauh dari Surga-Nya. Sehingga di sepanjang perjalanan dunia itu, kehidupan mereka diliputi oleh kemurkaan Allah Ta’ala terhadap mereka.

Kelompok Kedua, adalah manusia-manusia yang melintasi episode-episode dunia ini dengan menjadikan Allah Ta’ala sebagai tujuannya, dan Surga Firdaus sebagai destinasi terakhirnya. Tapi mereka bukanlah sekumpulan manusia tanpa dosa.

Mereka bukanlah manusia yang tidak pernah tergelincir dalam kesalahan. Mereka terkadang, bahkan seringkali, tergelincir dalam lalai dan dosa, tapi mereka selalu berusaha bangkit dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here