Akhirat Tak Mengenal Alasan: Semua Akan Diadili!

Timbangan
Ilustrasi Timbangan dan keadilan/Unplash

Harmantajang.com – Kehidupan di dunia ini dipandang sebagai sebuah amanah, dan akhirat tak mengenal alasan semua akan diadili!. Semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala pada Hari Kiamat nanti. 

Pada akhirnya, setiap individu akan kembali kepada Allah, di mana ia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap episode kehidupannya dan segala yang telah didapatkan serta dinikmati di dunia.

Pertanggungjawaban Universal dan Kepemimpinan

Kesadaran akan pertanggungjawaban Akhirat sangatlah penting. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa:

“Setiap kalian adalah penanggung jawab, dan akan ditanyai tentang yang tanggung jawabnya”. Tanggung jawab ini mencakup berbagai level, diantaranya:

Pertama, pemimpin negara (Imam/Kepala Negara): Seorang kepala negara akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. 

Sebagai contoh, Presiden Republik Indonesia (dengan populasi 280 juta manusia) kelak di Padang Mahsyar harus mempertanggungjawabkan nasib 280 juta penduduk, termasuk mereka yang kelaparan, kehilangan pekerjaan, atau dirampas hak-haknya.

Kedua, anggota Dewan: Mereka akan dipertanggungjawabkan atas amanah sebagai wakil rakyat, terutama yang gajinya dan fasilitasnya diambil dari uang rakyat. 

Kaki mereka tidak akan bergeser di Padang Mahsyar hingga selesai setiap detail amanah yang seharusnya dilaksanakan.

Baca Juga: Manusia-manusia yang Merugi dalam Hidupnya!

Ketiga, Gubernur dan Kepala Daerah: Mereka akan dimintai pertanggungjawaban terkait penduduk wilayahnya (misalnya, 9,5 juta manusia), mengenai apakah mereka telah berlaku adil dan bekerja keras untuk kemakmuran mereka.

Keempat, Keluarga: Suami/ayah bertanggung jawab atas keluarganya, sementara istri/ibu bertanggung jawab di dalam rumah suaminya.

Kelima, Individu: Setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana kita memimpin diri sendiri dalam menjalani kehidupan dunia.

Rasa Takut Para Salaf terhadap Amanah

Rasa takut mendalam terhadap pertanggungjawaban Akhirat adalah hal yang dibutuhkan oleh siapapun yang mengambil amanah kepemimpinan di semua level. 

Rasa takut ini menjadi pendorong terkuat untuk menunaikan amanah sebaik-baiknya, alih-alih hanya menuntut fasilitas dan gaji berlimpah sementara hasil kerja kosong dan kesejahteraan rakyat terpuruk.

Para Salaf yang shalih dahulu merasa sangat berat dan takut menghadapi amanah kepemimpinan (khalifah atau gubernur):

Pertama, Khalifah Abu Bakr al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah melihat seekor burung dan berkata: 

“Betapa beruntungnya engkau, wahai Burung! Engkau terbang lalu hinggap di sebatang pohon, lalu engkau makan dari buahnya, lalu terbang lagi tanpa harus dihisab dan diadzab!”. 

Beliau bahkan berharap menjadi sebatang pohon yang dimakan unta lalu dikeluarkan sebagai kotoran tanpa pernah menjadi manusia.

Kedua, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berharap “Andai saja aku ini adalah seekor domba saja yang digemukkan oleh tuannya, lalu disembelih… dan aku tak pernah menjadi manusia”.

Baca Juga: Ridha Allah: Kunci Kebahagiaan yang Hakiki

Beliau sering menangis tersedu-sedu setelah membaca Al-Qur’an (seperti Surah Al-Thur ayat 7: “Sungguh adzab Tuhanmu itu pasti terjadi”), sampai jatuh sakit, dan air mata menyebabkan bekas kehitaman di kedua pipinya. Beliau hanya ingin selamat di Akhirat, meskipun tanpa pahala dan tanpa dosa. 

Semangat inilah yang membuatnya bekerja keras memastikan rakyatnya aman dan tercukupi, bahkan berjalan malam untuk berkeliling memeriksa rakyatnya yang kelaparan atau kesusahan, dan sangat takut menggunakan fasilitas negara untuk dirinya dan keluarga.

Empat Pertanyaan Utama di Hari Kiamat

Di luar pertanggungjawaban sebagai pemimpin atau anggota keluarga, setiap hamba secara individu akan dihadapkan pada pertanyaan universal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki hamba pada Hari Kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal”:

Pertama, Umurnya: Untuk apa ia habiskan?. Kedua, Ilmunya: Untuk apa ia gunakan?. Ketiga, Hartanya: Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia belanjakan?. Dan Keempat, Tubuhnya: Untuk apa ia gunakan?

Semoga kita semua masih sempat menyiapkan pertanggungjawaban yang besar dan berat itu untuk pengadilan Allah Ta’ala di Hari Akhir nanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here