Home Aqidah Asyura dan Ahlul Bait: Meniti Sunnah dalam Bingkai Tauhid

Asyura dan Ahlul Bait: Meniti Sunnah dalam Bingkai Tauhid

Bulan
Ilustrasi bulan di malam hari/Unplash

Harmantajang.com – Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Rasulullah menyebut bulan ini sebagai Syahrullah (bulan Allah).

Di mana amalan puasa di dalamnya merupakan puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan. Di bulan ini terdapat hari Asyura yang menyimpan makna mendalam tentang syukur, kesabaran, dan kemurnian aqidah.

Asyura sebagai Hari Syukur dan Ittiba’ kepada Sunnah

Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, adalah momentum untuk bersyukur atas pertolongan Allah. Sejarah mencatat bahwa pada hari tersebut Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari pengejaran Fir’aun.

Ketika Rasulullah tiba di Madinah dan mendapati kaum Yahudi berpuasa, beliau bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,” lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pula.

Sebagai bentuk pembeda dengan kaum Ahli Kitab, para ulama menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal sembilan (Tasu’a) dan sepuluh Muharram.

Baca Juga: Pembinaan dan Menata Hati di Dunia untuk Akhirat

Ini adalah jalan ittiba’ (mengikuti Sunnah) yang diajarkan Nabi, bukan dengan mengadakan ritual-ritual baru yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Memaknai Tragedi Karbala dengan Kesabaran Syar’i

Pada hari Asyura pula, sejarah mencatat peristiwa menyedihkan yaitu gugurnya cucu Rasulullah, Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala.

Beliau adalah pemuka pemuda penghuni surga yang wafat dalam keadaan dizalimi. Namun, Islam mengajarkan bahwa kesedihan atas musibah harus tetap dibimbing oleh wahyu.

Rasulullah secara tegas melarang tradisi ratapan jahiliah seperti menampar pipi, merobek pakaian, atau menyakiti diri sendiri sebagai bentuk duka cita.

Mencintai Al-Husain bukanlah dengan melakukan ritual yang melanggar syariat, melainkan dengan meneladani keteguhan iman dan kesabaran beliau dalam memegang teguh kebenaran hingga akhir hayatnya.

Hakikat Cinta Ahlul Bait: Memuliakan Tanpa Ghuluw

Mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi) adalah kewajiban bagi setiap Muslim sesuai dengan wasiat Rasulullah.

Namun, cinta yang benar adalah cinta yang melahirkan ketaatan (ittiba’), bukan yang menjerumuskan pada sikap berlebih-lebihan (ghuluw) yang dapat merusak tauhid.

Baca Juga: Hakikat Umur: Antara Kuantitas Usia dan Kualitas Amal

Ahlussunnah meyakini bahwa:

Pertama, Ahlul Bait adalah keluarga tauhid yang mengajarkan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah.

Kedua, Cinta kepada Ahlul Bait tidak boleh dipertentangkan dengan cinta kepada para sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, karena mereka semua adalah hamba-hamba yang diridhai Allah.

Ketiga, Kecintaan yang sejati dilakukan dengan cara memuliakan, mendoakan, dan mengikuti jejak kebaikan mereka tanpa mengangkat kedudukan mereka menjadikan mereka tandingan bagi Allah.

Dengan memahami ketiga hal di atas, momentum Muharram dan Asyura hendaknya menjadi sarana untuk memperbanyak amal saleh, dan memperkokoh persaudaraan di atas landasan Al-Qur’an dan Sunnah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here