Belajar dari Sejarah: Menyikapi Dunia dan Peradaban Manusia

Bangunan masjid
Ilustrasi Bangunan masjid Islam/Unplash

Harmantajang.com – Kehidupan dunia ini hanyalah episode-episode sejarah yang terus mengalami pengulangan maka kita belajar dari sejarah menyikapi hakikat dunia dan peradaban manusia. 

Alur ceritanya selalu sama, meskipun tokoh dan pemerannya berganti. Pola-pola dan rumus-rumusnya tidak berbeda: yang zalim akan hancur dan yang durhaka akan sengsara. Meskipun pada awalnya mereka mungkin tampak berjaya dan bergembira, ujung kisahnya selalu membinasakan.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 137:

قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

Artinya: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Baca Juga: Kebahagiaan Sejati, Ujian Dunia, dan Persaksian Akhirat

Pesan Penting: Refleksi yang Mendalam

Ayat ini memberikan pesan penting bahwa seorang muslim harus memiliki jiwa refleksi dan perenungan yang mendalam. Seorang muslim tidak boleh hanya terkungkung pada batas-batas materi saat melihat sesuatu.

Ketika kita menyaksikan monumen-monumen peninggalan sejarah yang hebat, pandangan kita tidak seharusnya hanya terhenti pada kekaguman terhadap bangunannya. Kita harus merenungkan: bagaimana nasib para pencetus dan pembangun monumen tersebut sekarang di alam kuburnya?.

Contohnya, saat kita kagum melihat bangunan Piramid Firaun, kita tidak seharusnya sekadar kagum pada kecanggihan teknik arsitekturnya. Kita wajib merenungkan: bagaimana nasib Firaun sekarang di alam barzakh?.

Apakah dia dalam kenikmatan atau sedang diremukkan dalam azab kubur yang perih?. Demikian pula, saat menatap Tembok Besar Cina atau belajar tentang peradaban Yunani dan Romawi, sebagai muslim yang beriman pada Akhirat, kita harus bertanya: bagaimana nasib para pelopor peradaban dan kaisarnya di alam kubur?.

Allah menyuruh kita untuk tidak hanya takjub pada kisah sejarah umat terdahulu, tetapi merenungkan bagaimana akhir dari mereka yang mendustakan para Rasul yang diutus Allah.

Kefanaan Pencapaian Dunia

Prinsip hidup yang sangat penting yang diajarkan oleh Allah Ta’ala adalah bahwa semua pencapaian dan kehebatan dunia ini tidak akan pernah berguna jika ia tidak membuat kita semakin dekat kepada Allah, Rahmat-Nya, dan Surga-Nya.

Firaun, yang memerangi Nabi Musa ‘alaihissalam, memiliki pencapaian besar dalam pembangunan Mesir. Ia berhasil mengendalikan Sungai Nil sehingga Mesir menjadi negeri yang subur, dan infrastrukturnya sangat mengagumkan. 

Namun, akibat mendustakan Nabi Musa, kisahnya berakhir tragis dan meninggalkan kenangan buruk sepanjang sejarah.Pola ini akan terus berulang dalam sejarah manusia:

Siapapun yang menjauh dari Allah dan mendustakan ajaran para nabi dan rasul, ujung kisahnya pasti akan penuh derita, dan kisah hidup Akhirat sudah pasti jauh lebih menderita.

Baca Juga: Minuman Keras adalah Akar Kejahatan!

Oleh karena itu, segala kesuksesan duniawi sama sekali tidak ada gunanya jika kita jauh dari panduan agama Allah.

Pertama, tidak ada gunanya jabatan tinggi menjulang, jika kita jauh dari Allah, jika menjauhi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, tidak ada gunanya bisnis yang berlimpah profit, jika salat kita hancur, dan maksiat maju terus.

Ketiga, tiidak ada gunanya semua penghargaan dari manusia, jika kelak kita babak-belur diadzab Allah di alam kubur.

Rumus Penting Kehidupan

Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang rumus penting kehidupan ini. Inilah penentu jalan kesengsaraan atau kebahagiaan:

Pertama, sengsara: Mereka yang melampaui batas (thagha) dan lebih mendahulukan kehidupan dunia, maka Neraka Jahim-lah tempat kembalinya.

Kedua, bahagia: Mereka yang takut kepada kedudukan Tuhannya, dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh Surga-lah tempat kembalinya.

Dalam kondisi hari-hari ini, penting untuk tidak pernah melupakan Gaza dan saudara-saudara muslim di sana. Keberadaan mereka di bumi jihad Palestina adalah untuk mempertahankan dan mengembalikan Masjidil Aqsha ke tangan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Salah satu bentuk jihad bagi umat Islam di negeri ini adalah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk, serta jangan pernah berhenti berdoa untuk mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here