Bermedia Sosial Sesuai Tuntunan Syariat Islam

Media sosial
Ilustrasi bermain media sosial/Unplash

Harmantajang.com – Media sosial merupakan bagian dari realitas kehidupan modern yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia, termasuk umat Islam. Dalam Islam, setiap perbuatan baik lisan, tulisan, maupun isyarat akan dimintai pertanggungjawaban. 

Media sosial pada hakikatnya adalah perpanjangan lisan dan perbuatan manusia di ruang digital, sehingga penggunaannya harus tunduk pada tuntunan syariat Islam.

Pertanggungjawaban Setiap Aktivitas sebagai Amal

Setiap interaksi yang kita lakukan di media sosial merupakan bagian dari amal perbuatan kita di dunia yang tidak akan luput dari pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala kelak. Dalam Surat An-Nisa Ayat 1, Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Baca Juga: Kenapa Orang Beriman Bisa Lebih Bahagia?

Sumber tersebut menekankan bahwa pada Hari Kiamat, setiap jiwa akan mendapati semua amal kebaikannya dihadirkan, begitu pula dengan amal keburukannya. Hal ini mencakup Tontonan yang dilihat oleh mata, Informasi yang didengarkan oleh telinga. 

Komentar atau chat yang diketik oleh tangan dan postingan yang dibagikan (share) ke berbagai penjuru. Jika aktivitas medsos tersebut berisi kebaikan, maka akan memudahkan jalan menuju surga. 

Namun jika berisi maksiat, kebohongan, dan kezhaliman, pelakunya akan merasakan penyesalan yang luar biasa karena Allah mencatat semua itu meski manusia telah melupakannya.

Kesadaran akan Pengawasan Allah yang Melekat (Muraqabah)

Penting bagi setiap pengguna medsos untuk menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla selalu bersama hamba-Nya di mana pun berada dan Maha Melihat atas apa yang dilakukan.

Kesadaran ini harus tetap ada meskipun kita sedang dalam kesendirian tanpa pengawasan dari manusia lain, seperti istri, suami, anak, atau orang tua. Allah mengetahui setiap detail aktivitas di dunia maya, bahkan jika dilakukan di tempat yang paling tersembunyi sekalipun.

Sumber tersebut mengingatkan bahwa pengawasan Allah itu sangat lekat, sehingga setiap tindakan di depan layar gawai harus senantiasa didasari oleh rasa takut dan harap kepada-Nya.

Manajemen Waktu sebagai Modal Akhirat

Waktu merupakan modal paling berharga yang diberikan Allah untuk menyiapkan kehidupan akhirat. Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui jalur periwayatan Ibnu ‘Abbas:

 ‌نِعْمَتَانِ ‌مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ 

Artinya: “Dua nikmat yang banyak sekali manusia melupakannya, yakni keadaan sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Baca Juga: Rajab: Bukan Tradisi, Harus ada Tuntunan Syariat

Penting untuk memperingatkan agar kita berhati-hati dengan waktu yang dihabiskan untuk bermedsos, karena banyak manusia yang tertipu oleh nikmat waktu lapang. Beberapa fenomena yang disorot meliputi:

Menghabiskan waktu yang tidak ada habisnya untuk mengakses platform seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan TikTok. Kebiasaan membuka handphone di meja makan atau sesaat setelah shalat bahkan sebelum sempat berdzikir. 

Jika waktu di dunia habis hanya untuk interaksi medsos yangsia-sia, hal tersebut akan menjadi kegelapan di akhirat dan sulit dipertanggungjawabkan di Padang Mahsyar nanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here