Home Tazkiyah Berubah Menuju Allah: Mujahadah Menata Kehidupan

Berubah Menuju Allah: Mujahadah Menata Kehidupan

Bermunajat
Ilustrasi Bermunajat kepada Allah/Istock

Harmantajang.com – Pernahkah kita menyadari betapa cepatnya dunia di sekitar kita berubah? Coba kita tengok keluar batin kita sejenak. Wajah kota berubah, teknologi semakin canggih, cara kita bekerja, dan cara kita berkomunikasi pun sudah jauh berbeda dibanding dulu.

Namun, di tengah begitu banyaknya perubahan di luar diri kita, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita tanyakan pada diri sendiri: sudahkah ada perubahan batin yang berarti di dalam diri kita?

Jangan-jangan, seiring bertambahnya umur, kedekatan kita kepada Allah justru tidak bertambah. Pengalaman hidup semakin panjang, tetapi kita tidak semakin sabar.

Memahami Sunnatullah Perubahan

Sehidupan manusia ini berjalan di atas sunnatullah ketetapan Allah yang berlaku dari zaman ke zaman, tidak akan pernah berubah atau bergeser hanya karena keinginan kita.

Di antara sunnatullah terbesar yang harus kita pahami adalah sunnatullah tentang perubahan.

Baca Juga: Hakikat Cahaya Allah: Petunjuk bagi Kebersihan Hati

Allah tidak pernah mengajarkan kita untuk duduk diam berpangku tangan menunggu nasib membaik begitu saja, sementara kita sendiri terus mempertahankan kebiasaan buruk kita.

Allah tidak mengajarkan suatu kaum meminta kemuliaan dan kejayaan sementara sebab-sebab kehinaan terus dipelihara. Seperti firman-Nya yang sangat sering kita dengar:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Dua Arah Perubahan: Berkah yang Hilang atau Rahmat yang Datang

Kita harus waspada, karena perubahan diri manusia itu memiliki dua arah: bisa berubah dari buruk menjadi baik, atau justru merosot dari baik menjadi buruk.

Betapa banyak manusia yang ketika hidupnya masih sempit, usahanya masih kecil, begitu rajin melangkah ke masjid, begitu lembut tutur katanya, dan sangat mudah menerima nasihat.

Namun, begitu Allah lapangkan rezekinya, naikkan jabatannya, dan kenalkan namanya, ia mulai merasa terlalu sibuk untuk ibadah. Teguran terasa seperti penghinaan, dan orang-orang yang dulu berjalan bersamanya mulai tidak dianggap.

Ingatlah, hilangnya nikmat tidak selalu ditandai dengan datangnya kemiskinan materi. Kadang secara lahiriah hartanya makin melimpah dan rumahnya makin megah, tetapi keberkahannya dicabut oleh Allah.

Mujahadah: Perjuangan dan Langkah Kecil Tanpa Menunda

Saudara-saudaraku, kita harus jujur bahwa melakukan perubahan batin itu tidak selalu terjadi dalam satu malam.

Baca Juga: Hakikat Ujian Dunia dan Shalat sebagai Penawar Jiwa

Mengubah kebiasaan lama dan membangun ketaatan baru membutuhkan perjuangan yang berat (mujahadah). Kadang kita ingin rajin shalat tepat waktu, tetapi awalnya terasa berat.

Ingin membaca Al-Qur’an, baru beberapa halaman mata sudah mengantuk. Ingin bangun malam, selimut terasa begitu berat menjelang akhir malam.

Jangan pernah menyerah hanya karena ibadah belum terasa nikmat. Rasa lezatnya iman itu sering kali baru lahir setelah kita bersungguh-sungguh memaksa diri menjalani ketaatan.

Mari kita renungkan perkataan seorang tabi’in mulia, Tsabit al-Bunani rahimahullah:

“Aku bersusah payah melaksanakan shalat malam selama dua puluh tahun, kemudian aku menikmati kelezatannya selama dua puluh tahun berikutnya.”

Dua puluh tahun beliau mendidik jiwanya agar tunduk dan konsisten! Maka, jangan berkecil hati jika di awal perjalanan hijrah kita harus tertatih-tatih. Setiap kali kita melawan hawa nafsu demi Allah, ketahuilah bahwa kita sedang berjalan menuju perubahan yang diridhai-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here