Cara Syaithan Menggelincirkan Manusia

0
149
Ilustrasi Godaan Syaitan/pikiran rakyat

Harmantajang.com – Dalam Q.S Al-Baqarah: 168-169, Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan kepada kita agar tidak mengikuti langkah -langkah syaithan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ , إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

Syaithan menggelincirkan anak cucu adam dengan melalui beberapa cara diantaranya adalah:

1. Syirik kepada Allah Subhanahu wata’ala

Dengan jalan kesyirikan, karena syaithan tahu bahwasanya ketika anak cucu adam mempersekutukan Allah Subhanahu wata’ala maka tidak ada lagi harapan baginya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An Nisa’: 48).

Pelaku dosa besar dihari kiamat selama ia tidak mempersekutukan Allah subhanahu wata’ala  maka dia berada dalam kehendak Allah subhanahu wata’ala apakah ia dimasukkan ke surga secara langsung dengan luasnya rahmat Allah subhanahu wata’ala ataukah dimasukkan ke neraka terlebih dahulu.

Kemudian dimasukkan ke dalam surga (tidak kekal dalam neraka),  akan tetapi pelaku kesyirikan dan kekufuran tidak akan diampuni Allah subhanahu wata’ala (kekal dalam neraka). Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS. Al Maidah : 72).

2. Bid’ah (Perkara baru dalam urusan agama)

Bid’ah terjadi saat kaum muslimin menambah –nambah dalam urusan agama dengan  berkreasi dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sesuatu yang belum pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berkata Imam Malik Rahimahullah:

مَنْ أَحْدَثَ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ الْيَوْمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ سَلَفُهَا فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  خَانَ الرِّسَالَةَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ ﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً﴾ (المائدة:3) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا لاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara yang baru di umat ini yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu maka dia telah menuduh bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah Allah.

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu”.(QS. Al Maidah :3).

Maka perkara apa saja yang pada hari itu (pada masa Rasulullah) bukan merupakan perkara agama maka pada hari ini juga bukan merupakan perkara agama”. (Al-Ihkam, karya Ibnu Hazm 6/255).

Oleh karenanya hendaklah kita mejauhi perbuatan bid’ah karena amalan yang dikerjakan tanpa tuntunan dan contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka amalannya akan tertolak dan tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala.

Sebagaimana dalam hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim no. 1718).

3. Dosa – dosa besar

Syaithan senantiasa menggelincirkan anak cucu adam dengan perbuatan – perbuatan keji yaitu dengan perbuatan dosa-dosa besar. Dosa besar tersebut dijadikan oleh syaithan terlihat indah dan nikmat pada pandangan manusia.

Sehingga apabila manusia telah melakukan dosa besar tersebut maka akan merugikan bagi pelakunya disisi Allah Subhanahu wata’ala baik berupa siksa maupun laknat dari Allah Subhanahu wata’ala.

4. Dosa – dosa kecil

Ketika seseorang belajar sunnah sehingga menjaga dirinya dari kesyirikan, kebid’ahan, kemudian menjaga dirinya dari maksiat dan dosa besar maka syaithan kemudian menggelincirkannya lewat dosa – dosa kecil.

Dimana seseorang itu sering meremehkan dosa kecil dengan mengatakan Allah subhanahu wata’ala maha luas ampunan dan rahmatnya.

Seorang hamba apabila melakukan dosa maka dalam hatinya ada titik hitam. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. Al Muthoffifin: 14).

5. Berlebih dalam perkara yang mubah

Segala yang sifatnya berlebih–lebihan seperti pemborosan dalam berpakaian, makanan, minuman, tidur dan seterusnya yang bisa menjadikan seseorang menghabiskan waktunya pada suatu yang tidak bermanfaat walaupun tidak ada dosa didalamnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. (QS. Al Isra’ : 26-27).

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raf: 31).

Sumber: Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here