Di Ujung Tahun, Sudahkah Kita Berbenah?

Bulan
Ilustrasi bulan di danau/Istock

Harmantajang.com – Pergantian tahun sering kali disikapi oleh banyak orang dengan euforia, pesta, dan perayaan yang meriah. Di Ujung Tahun ini, Sudahkah Kita Berbenah?.

Namun, bagi seorang mukmin, momentum ini seharusnya menjadi saat untuk berhenti sejenak dan melakukan muhasabah atau introspeksi diri yang jujur mengenai sejauh mana perjalanan hidup telah diarahkan menuju Allah.

Pergantian Waktu sebagai Momentum Muhasabah, Bukan Euforia

Banyak orang menyikapi pergantian tahun dengan perayaan, pesta, dan euforia yang berlebihan. Namun, bagi seorang mukmin, momen ini seharusnya menjadi waktu untuk berhenti sejenak dan melakukan muhasabah atau introspeksi diri yang jujur.

Pergiliran siang dan malam serta tahun yang berganti adalah “alarm iman” yang mengingatkan bahwa jatah usia kita di dunia terus menyusut dan kesempatan untuk beramal semakin sempit. 

Baca Juga: Peringatan, Islam Mengajarkan Toleransi Bukan Kebablasan!

Oleh karena itu, kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri sejauh mana perjalanan hidup kita telah diarahkan untuk mendekat kepada Allah. Dalam Surat Fatir Ayat 15 Allah berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ٱلْحَمِيدُ

Artinya: Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.

Menyadari Kedekatan Ajal dan Pentingnya Bekal Akhirat

Semakin bertambah angka tahun, semakin dekat pula kita pada penghujung perjalanan hidup menuju akhirat. 

Sumber ini mengingatkan bahwa tanda-tanda kematian sudah sering muncul di sekitar kita, mulai dari rambut yang memutih, tubuh yang melemah, hingga wafatnya tetangga dan kerabat.

Rasulullah SAW menyebut kematian sebagai “pemutus segala kenikmatan” karena saat ajal tiba, semua harta, jabatan, dan nama besar akan ditinggalkan. 

Dalam fase ini, hanya iman dan amal saleh yang akan menemani manusia di dalam kubur, sementara keluarga dan harta akan kembali pulang.

Menjaga Identitas Islam dan Meningkatkan Solidaritas Umat

Salah satu tantangan besar bagi umat Islam saat ini adalah penyakit tasyabbuh (ikut-ikutan), yaitu meniru gaya hidup, budaya, atau perayaan yang tidak bersumber dari nilai-nilai Islam. 

Baca Juga: Dunia sebagai Ujian, Akhirat sebagai Penentuan!

Seorang muslim diharapkan memiliki identitas yang kuat dan tidak sekadar mengikuti arus tren yang dapat mengaburkan akidahnya. Selain memperbaiki diri secara pribadi, pergantian tahun juga harus diiringi dengan peningkatan solidaritas sosial. 

Kita diingatkan untuk tetap peduli dan membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah, seperti korban bencana di Sumatra, serta tidak melupakan perjuangan umat Islam di Gaza yang masih menghadapi penjajahan.

Kehidupan ini ibarat sebuah buku yang sedang ditulis. Setiap pergantian tahun adalah tanda bahwa satu bab telah selesai dan tidak bisa direvisi kembali. 

Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa bab-bab berikutnya ditulis dengan tinta ketaatan agar saat buku tersebut diserahkan kepada Sang Pencipta, kita tidak merasa malu dengan isinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here