Dunia di Mata Islam: Antara Fana dan Ujian

Dunia
Ilustrasi dunia cerah/Istock

Harmantajang.com – Dunia yang kita tempati, dengan segala gemerlap dan hiruk pikuknya, bahkan Dunia di Mata Islam: Antara Fana dan Ujian dan seringkali menjadi arena perebutan yang menyebabkan perpecahan dan konflik. 

Manusia bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, saling bertikai, dan memutuskan tali silaturahmi demi kekuasaan, pangkat, jabatan, atau harta benda. Namun, di sisi Allah nilai dunia ini jauh lebih rendah dari yang kita bayangkan.

Nilai Dunia di Sisi Allah

Rasulullah menggambarkan nilai dunia ini tidak lebih berharga dari seekor bangkai binatang yang cacat. Beliau pernah melewati bangkai seekor kambing cacat di pasar dan bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang mau membeli bangkai ini walau dengan satu dirham?” 

Para sahabat menjawab bahwa andaikata pun hidup, hewan itu cacat dan tidak ada yang mau membelinya, apalagi sudah mati dan menjadi bangkai. Lalu Nabi bersabda, “Demi Allah, dunia ini tidaklah lebih berharga di sisi Allah dari bangkai ini.”.

Penting untuk dipahami bahwa Allah memberikan bagian dunia kepada siapa pun yang Dia kehendaki, tanpa membedakan antara orang kafir dan orang beriman. Bahkan, terkadang bagian orang kafir lebih banyak.

Ini bukanlah tanda kemuliaan, melainkan bisa jadi sebab bertambahnya dosa dan kesesatan mereka di sisi Allah. 

Baca Juga: Surga dan Kenikmatan Abadi Di Dalamnya!

Nasehat Rasulullah dalam Menyikapi Dunia 

Melihat rendahnya nilai dunia, Rasulullah memberikan nasehat penting diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata:

أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: «كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلِ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ، فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ، فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحْتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menepuk kedua pundakku, lalu bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang asing atau orang yang singgah dalam perjalanan.” Ibnu Umar berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi. Dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore. Ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk masa sakitmu, dan sewaktu engkau hidup untuk matimu.” (HR Bukhari).

Seorang asing yang bepergian ke suatu tempat tidak akan berniat membangun rumah permanen, memulai usaha besar, atau berinvestasi jangka panjang di tempat tersebut. Ia hanya membawa bekal secukupnya karena akan kembali ke kampung halamannya.

Ini bahkan lebih ringkas, seperti seorang pengembara yang hanya singgah sebentar untuk bernaung di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya. Ini adalah perumpamaan untuk zuhud terhadap dunia, tidak diperbudak olehnya.

Maka dari itu, kita dianjurkan untuk mencari rezeki dan berusaha menjadi kaya, tetapi jangan sampai dunia masuk ke dalam hati, memalingkan kita dari ketaatan kepada Allah, membuat kita sombong, atau melupakan kampung akhirat yang sesungguhnya.

Perumpamaan Dunia dalam Al-Quran (Air) 

Baca Juga: Kekuatan Istighfar: Solusi Dunia Akhirat

Allah memberikan perumpamaan kehidupan dunia ini seperti air. Menurut, Imam Al-Qurthubi Rahimahullah menjelaskan empat alasan mengapa dunia diumpamakan seperti air:

Pertama, Tidak Pasti: Dunia ini tidak ada yang pasti, semua berubah-ubah. Hari ini Anda menangis, besok tertawa; hari ini kaya raya, besok bangkrut. Kedua, Fana (Hilang/Tidak Kekal): Air tidak pernah tinggal, ia terus mengalir. Begitu pula dunia, ia adalah sesuatu yang fana dan tidak kekal.

Ketiga, Membasahi/Menguji: Siapa pun yang terlalu sibuk dengan dunia akan “basah” atau terfitnah dengannya. Ketamakan manusia terhadap dunia tidak pernah berhenti, kecuali kematian menjemputnya. Bahkan, semakin tua seseorang, ketergantungan hatinya terhadap dunia bisa semakin besar.

Keempat, Berpotensi Membahayakan: Jika takarannya pas, air bermanfaat bagi manusia. Namun, jika berlebihan atau meluap, ia bisa menjadi tsunami yang menenggelamkan. Demikian pula dunia, jika berlebihan, ia bisa membahayakan dan menjadi sebab fitnah.

Ditambahkan pula bahwa seperti air yang mengalir akan semakin jernih, harta yang kita alirkan melalui infak dan sedekah di jalan Allah akan semakin bersih. Sedekah dapat menyucikan jiwa dari kekikiran dan membersihkan harta dari unsur syubhat atau haram yang mungkin bercampur tanpa kita sadari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here