Dunia ini ‘Bangkai’, Mengapa kita Masih Berebut?

Laut Indah
Ilustrasi Laut Indah dan matahari/Unplash

Harmantajang.com – Sering kali kita menyaksikan manusia menghalalkan segala cara demi mengejar kekuasaan, pangkat, dan harta, padahal dunia ini bangkai, mengapa kita masih berebut.

Fenomena ini bahkan berujung pada pertikaian di pengadilan, di mana anak menggugat orang tua atau saudara memutuskan silaturahmi hanya demi materi. 

Padahal, jika kita merujuk pada pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, dunia yang diperebutkan ini tidak lebih bernilai di sisi Allah daripada seekor bangkai binatang yang cacat,.

Hakikat Dunia dalam Pandangan Islam

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan nasehat mendalam kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan memegang pundaknya agar ia menyimak dengan seksama. Beliau bersabda:

“Hiduplah engkau di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing (gharib) atau sekadar orang yang lewat (abiru sabil)”.

Seorang orang asing tidak akan berpikir untuk membangun kemewahan permanen di tempat persinggahannya karena ia akan kembali ke kampung halaman.

Baca Juga: Di Ujung Tahun, Sudahkah Kita Berbenah?

Sementara itu, orang yang sekadar lewat diibaratkan seperti seorang pengembara yang bernaung sejenak di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya. 

Nama “dunia” sendiri secara bahasa berasal dari kata ad-dunya yang berarti sesuatu yang dekat, fana, dan tidak bernilai tinggi di sisi Allah.

Perumpamaan Dunia Seperti Air

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 45:

وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرًا

Artinya: Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tidak ada yang pasti: Dunia selalu berubah, kadang kaya kadang bangkrut, sebagaimana air yang terus bergerak. Tidak menetap: Air akan selalu mengalir dan hilang, begitu pula dunia yang fana.

Menimbulkan fitnah: Siapa pun yang masuk ke air pasti akan basah; demikian pula orang yang terlalu sibuk dengan dunia pasti akan terfitnah olehnya,. Berbahaya jika berlebihan: Air dalam takaran yang pas akan bermanfaat, namun jika berlebihan bisa menjadi tsunami yang menenggelamkan.

Baca Juga: Peringatan, Islam Mengajarkan Toleransi Bukan Kebablasan!

Selain itu, harta dunia juga seperti air yang akan semakin jernih jika dialirkan. Bersedekah dan berinfak adalah cara untuk “mengalirkan” harta agar suci dari sifat kikir dan kotoran harta yang mungkin didapat secara syubhat.

Bahaya Menunda Kebaikan

Abdullah bin Umar mengingatkan agar kita tidak menunda-nunda amal saleh. Jika berada di waktu pagi, jangan menunggu sore untuk beramal, dan sebaliknya. 

Ada dua penghalang utama dalam ketaatan: panjang angan-angan (thulul amal) dan sikap menunda-nunda (taswif). Kita diperintahkan untuk memanfaatkan masa sehat sebelum sakit dan masa hidup sebelum mati.

Sebagai penutup untuk memantapkan pemahaman, bayangkanlah dunia ini seperti sebuah hotel transit di bandara. Anda mungkin menikmati fasilitasnya sejenak.

Namun Anda tidak akan menghabiskan seluruh energi dan harta Anda untuk merenovasi kamar hotel tersebut, karena fokus utama Anda adalah penerbangan menuju tujuan akhir yang sesungguhnya. Begitu pula dunia, ia hanyalah tempat transit menuju akhirat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here