Harmantajang.com – Dunia memiliki daya tarik yang begitu kuat bagi manusia. Keindahannya memanjakan pandangan, hartanya menjanjikan kenyamanan, dan popularitasnya membuat seseorang merasa berharga.
Tidak mengherankan jika banyak manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengejar apa yang tampak di hadapan mata, hingga terkadang lupa mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih besar: kehidupan akhirat.
Waspada, Jebakan Obsesi Dunia
Islam tidak pernah melarang seseorang bekerja keras, menafkahi keluarga, atau mencari kehidupan yang layak. Masalah baru muncul ketika dunia berubah dari sekadar sarana menjadi tujuan utama hidup.
Ketika materi diakses hanya untuk memuaskan keinginan tanpa tepi, Rasulullah memperingatkan bahwa Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan rasa kurang (kefakiran) selalu berada di depan matanya.
Di era modern, kebiasaan membandingkan pencapaian di layar media sosial sering kali membuat harta bertambah, namun kedamaian batin justru semakin menyempit.
Baca Juga: Pintu Taubat Terbuka, Mengapa Masih Menunda?
Pada titik ini, kekayaan tidak lagi dipandang sebagai alat untuk berbuat baik, melainkan dijadikan sebagai tolok ukur harga diri.
Jabatan tidak lagi dimaknai sebagai amanah yang berat, melainkan dikejar demi meraup kemuliaan semu.
Hakikat Kekayaan Jiwa dan Orientasi Akhirat
Memiliki orientasi akhirat tidak berarti meninggalkan aktivitas duniawi. Justru kesadaran akhirat menjadikan pekerjaan, perdagangan, dan jabatan sebagai ikhtiar ibadah serta sarana menebar kebaikan.
Rasulullah menegaskan bahwa kekayaan sejati bukanlah melimpahnya harta benda, melainkan kekayaan jiwa (ghina an-nafs) yang mampu merasa cukup dan bersyukur.
Niat meraih keridhaan akhirat ini pun harus dibuktikan dengan kesungguhan amal nyata dan kejujuran hidup sehari-hari.
Ketika niat di dalam dada telah diluruskan, aktivitas mencari rezeki halal tidak lagi bernilai sekadar perburuan materi, melainkan menjelma menjadi ladang ibadah yang sarat pahala.
Harta tidak lagi ditumpuk untuk memuaskan syahwat kepemilikan, melainkan diposisikan sebagai amanah Allah yang digunakan untuk membantu sanak keluarga, menyantuni fakir miskin, mendukung sarana pendidikan, dan membiayai berbagai rupa pintu kebaikan.
Baca Juga: Ketika Iman Menjadi Fondasi Keberkahan Rumah Tangga
Penting untuk Menjaga Keseimbangan Hidup
Rasulullah mengumpamakan manusia di dunia bagaikan seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon rindang sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan utama.
Kesadaran akan batas usia (dzikrul maut) hadir bukan untuk mematikan semangat hidup, melainkan agar manusia bijak mengelola waktu dan tidak menunda taubat.
Sebagai bentuk petunjuk yang sempurna, Islam tidak pernah menyuruh hamba-Nya untuk membuang dunia, melainkan mengajarkan sebuah konsep keseimbangan yang amat indah
Keseimbangan ideal ini terangkum dalam Doa Sapujagat dalam Surat Al-Baqarah Ayat 201
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Artinya: Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.



