Home Tazkiyah Hakikat Cahaya Allah: Petunjuk bagi Kebersihan Hati

Hakikat Cahaya Allah: Petunjuk bagi Kebersihan Hati

Cahaya
Ilustrasi Cahaya langit/Unplash

Harmantajang.com – Cahaya Allah merupakan petunjuk yang menerangi kehidupan manusia, baik secara lahiriah maupun batiniah. Allah menyifati diri-Nya sebagai cahaya langit dan bumi, yang dari-Nya segala bentuk cahaya memperoleh pengaruh dan manfaat.

Cahaya tersebut tidak hanya dipahami dalam bentuk fisik, tetapi juga bermakna sebagai petunjuk melalui Al-Qur’an, syariat, dan risalah Rasulullah.

Hakikat Cahaya (Nur) Allah secara Hissiah (Fisik) dan Maknawiah (Petunjuk)

Allah menyifatkan diri-Nya sebagai cahaya langit dan bumi. Segala bentuk cahaya fisik di alam semesta termasuk matahari, bulan, dan bintang merupakan pengaruh (asar) dari cahaya yang berasal dari Allah.

Bahkan, hijab atau penghalang yang membatasi pandangan makhluk dengan Allah adalah cahaya. Berdasarkan tafsir Ibnu Abbas, Allah adalah pemberi petunjuk (hadi) bagi seluruh makhluk di langit dan di bumi.

Baca Juga: Hakikat Ujian Dunia dan Shalat sebagai Penawar Jiwa

Selain itu, syariat Allah, kitab suci Al-Qur’an (yang juga disifatkan sebagai ruh), dan Rasulullah (sebagai sirajan munira) merupakan cahaya maknawi yang memberikan bimbingan kepada

Perumpamaan Cahaya Allah dan Kondisi Hati Manusia

Cahaya Allah dipermisalkan seperti sebuah relung tembok (miskah) yang di dalamnya terdapat pelita (misbah) di dalam wadah kaca (zujajah) yang jernih dan berkilau bagaikan bintang (kaukab durri).

Pelita ini dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang penuh berkah (syajarah mubarakah). Pohon ini tumbuh di tempat tinggi sehingga mendapatkan sinar matahari sepanjang hari, baik di waktu pagi maupun sore.

Saking jernihnya, minyak tersebut hampir memancarkan cahaya meskipun belum disentuh oleh api. Wadah kaca yang jernih melambangkan hati manusia yang bersih.

Hati yang bersih akan sangat mudah menerima kebenaran dan cahaya wahyu Allah, sehingga melahirkan nurun ala nur (cahaya di atas cahaya), yaitu bertemunya cahaya fitrah manusia sejak lahir dengan cahaya wahyu Allah.

Sebaliknya, setiap kemaksiatan yang dilakukan oleh anggota tubuh akan mengotori hati dengan titik hitam (nuktatun sauda) dan penutup (arran), yang harus dibersihkan melalui istigfar dan amal kebaikan.

Masjid sebagai Tempat Mendapatkan Cahaya

Rahmat dan cahaya Allah secara utama dapat dicari di masjid-masjid (fi buyut) yang diperintahkan oleh Allah untuk ditinggikan, dimuliakan, dan dimakmurkan.

Baca Juga: Kekuatan Adab Berdoa: Jembatan Tanpa Batas Antara Hamba dan Pencipta

Masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi untuk melaksanakan salat, berzikir, bertasbih, serta membaca tahmid dan tahlil.

Cahaya ini akan terpancar pada orang-orang (rijal) yang tidak dilalaikan oleh perdagangan atau jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.

Mereka senantiasa menjaga ibadah tersebut karena takut akan kedahsyatan hari kiamat, yaitu hari ketika hati dan penglihatan manusia dibolak-balikkan karena rasa takut yang sangat besar kepada Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here