Harmantajang.com – Cinta kepada Rasulullah bukan sekadar ungkapan di lisan, rasa haru ketika mendengar kisah beliau, atau memperbanyak shalawat ketika nama beliau disebut.
Cinta yang sejati harus melahirkan ittiba’, yaitu kesungguhan untuk mengikuti petunjuk, sunnah, akhlak, dan tuntunan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, orang yang benar-benar mencintai Rasulullah akan berusaha menjadikan beliau sebagai teladan dalam ibadah, perkataan, sikap, serta cara memperlakukan sesama.
Bukti Cinta Sejati adalah Ittiba’ (Mengikuti Petunjuk)
Setiap Muslim tentu ingin menyatakan bahwa mereka mencintai Rasulullah dengan cara bershalawat ketika nama beliau disebut.
Bisa juga dengan merasa sedih saat kehormatan beliau direndahkan, atau bergembira mendengar kisah perjalanan hidup beliau.
Namun, satu pertanyaan jujur yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah apakah cinta tersebut telah benar-benar mengubah cara hidup kita.
Baca Juga: Menjaga Kemuliaan Diri dari Godaan Iblis
Sebab, cinta kepada Rasulullah bukanlah sekadar luapan emosi atau slogan semata, melainkan sebuah komitmen yang membawa konsekuensi nyata serta menuntut pembuktian di dalam aktivitas sehari-hari.
Bukti terbesar dari cinta kepada beliau adalah ittiba
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa ukuran cinta yang sesungguhnya dikaitkan erat dengan perintah untuk mengikuti (fatatabi’uni) jalan hidup Rasulullah.
Cinta yang benar akan tampak nyata dalam ketaatan kita pada perintah beliau, menjauhi larangan-nya, membela Sunnahnya, serta kesediaan menundukkan hawa nafsu pribadi demi mendahulukan tuntunan beliau.
Bahkan, keimanan seseorang dinilai tidak akan sempurna sebelum ia mencintai Rasulullah melebihi keluarganya sendiri dan seluruh umat manusia.
Para sahabat memberikan teladan dalam mempraktikkan ittiba’ yang murni.
Sebagai contoh, ketika Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad, beliau terlebih dahulu menegaskan prinsip tauhid bahwa batu tersebut sama sekali tidak dapat memberikan manfaat maupun mudarat dengan sendirinya.
Umar menyatakan bahwa satu-satunya alasan beliau tetap mencium batu tersebut adalah murni karena melihat Rasulullah menciumnya.
Baca Juga: Menyucikan Hati, Menggapai Ridha Sang Ilahi
Kisah keteladanan Umar ini menjadi gambaran sangat kuat mengenai bagaimana generasi sahabat membuktikan cinta mereka dengan sepenuhnya mengikuti tindakan Nabi tanpa didasari anggapan adanya kekuatan gaib pada benda tersebut.
Pada akhirnya, cinta sejati ini harus membumi dan tecermin secara langsung dalam kehidupan kita sehari-hari.
Cinta kepada Rasulullah tidak boleh berhenti sebagai tulisan indah di profil media sosial sementara lisan kita masih ringan menyebarkan ghibah, fitnah, atau kemarahan yang melukai keluarga.




