Home Aqidah Islam: Agama Jalan Pertengahan dan Keseimbangan!

Islam: Agama Jalan Pertengahan dan Keseimbangan!

Masjid
Ilustrasi Masjid dalam Isalm/Up;ash

Harmantajang.com – Salah satu bentuk keistimewaan dan kesempurnaan Islam adalah bahwa ia merupakan agama jalan pertengahan dan keseimbangan. Ajaran Islam selalu mengajak umatnya menempuh jalan terbaik di antara ajaran dan isme lain yang ekstrim atau berlebih-lebihan. 

Dalam Islam, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, antara ikhtiar dan tawakkal, antara berusaha dan beriman kepada takdir, antara ilmu dan ibadah, serta antara sikap rahmat dan ketegasan.

Ghuluw Membawa Bencana

Jika ditelusuri lebih dalam, Islam selalu mengajak kita untuk bersikap seimbang dan pertengahan dalam segala aspek. Ini karena sikap ekstrim dan berlebihan, yang dalam bahasa Arab disebut “Ghuluw”, selalu membawa bencana dalam keberislaman kita.

Dalam konteks mencintai atau menghormati seseorang baik itu seorang ahli ibadah, ulama, kyai, ustadz, bahkan seorang Rasul mulia seperti Baginda Rasulullah kita diingatkan untuk jangan berlebihan, jangan over dosis, jangan kebablasan. 

Berlebihan dalam mencintai, menghormati, mengagumi, dan menyanjung seseorang, siapapun itu, pasti akan mendatangkan bencana dalam keberislaman.

Sejak 14 abad yang lalu, Rasulullah sudah mengingatkan bahaya sikap ghuluw dalam beragama, termasuk dalam menghormati dan memuliakan orang-orang tertentu atas alasan agama. Beliau bersabda: 

إيَّاكم والغُلُوَّ في الدِّينِ؛ فإنَّما أهلَكَ من كان قَبْلَكم الغُلُوُّ في الدِّينِ

Artinya:

“Jauhilah oleh kalian semua sikap berlebihan dalam beragama, karena tidak ada yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian selain sikap berlebihan mereka dalam beragama.” (HR. al-Nasa’i dan Ahmad).

Baca Juga: 3 Pilar ‘Berbisnis’ dengan Allah yang Tak Pernah Rugi

Sikap ekstrim atau ghuluw dalam beragama pasti menghancurkan siapapun. Meskipun mungkin secara fisik pelakunya tidak hancur, namun cara berpikir dan memandangnya sudah hancur, hilang kewarasan, dan sikap objektifnya.

Pergeseran Standar Kebenaran

Karena terlalu cinta dan hormat kepada guru, ustadz, ulama, atau kyai, patokan kebenaran seseorang bisa bergeser dan kehilangan panduan objektifnya. Kebenaran bukan lagi berdasarkan wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi pada “apa kata guru dan kyainya,” meskipun menyelisihi apa kata Allah dan Rasul-Nya.

Orang-orang yang berlebihan dalam beragama cenderung mencari pembenaran, dan bukan kebenaran. Mereka sibuk mencari dalil dan argumentasi untuk memberikan legalitas pada keyakinan mereka, meskipun dalil itu dipaksakan atau sekadar “cocokologi”.

Karena terlalu hormat dan cinta kepada orang shalih atau wali Allah, mereka kehilangan pegangan ilmu yang valid dan sahih, serta kehilangan nalar lurus yang seharusnya sejalan dengan wahyu Allah. 

Puncaknya, mereka terjebak pada pengkultusan dan pemujaan orang-orang shalih dengan cara yang bahkan tidak pernah dilakukan oleh Sahabat dan Salaf yang shalih kepada Rasulullah.

Pola berlebihan dalam memuliakan orang shalih ini selalu berujung pada dosa yang paling tidak terampunkan di sisi Allah Ta’ala, yaitu dosa syirik.

Contoh Sejarah Dosa Syirik Pertama

Dosa syirik yang pertama kali terjadi dalam sejarah umat manusia adalah di zaman Nabi Nuh alaihissalam. Awal mulanya terlihat sederhana: ada sejumlah orang shalih yang sangat dicintai dan dimuliakan, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Ketika kelima orang shalih ini meninggal, setan datang memberikan ide. Setan mendorong mereka untuk memvisualisasikan kelima orang shalih yang sudah wafat itu dalam wujud patung.

Baca Juga: Kematian yang Mustarih dan Mustarah, Pahami Perbedaannya!

Awalnya, patung itu bukan untuk disembah, dimintai doa, atau diambil berkahnya, melainkan hanya sebagai motivasi untuk meneladani ibadah mereka.

Namun, ketika generasi awal meninggal dan ilmu agama yang valid mulai diabaikan saat dalil-dalil sahih mulai diremehkan dan para pemberi nasihat dituduh dengan tuduhan aneh setan melancarkan strategi barunya. 

Puncaknya, orang-orang shalih itu tidak lagi sekadar menjadi pemberi motivasi, tetapi sudah menjelma dan dijadikan “tuhan-tuhan yang disembah”. Semua ini bermula dari pengkultusan yang over dosis, penghormatan yang berlebihan, dan rasa cinta yang keterlaluan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here