Harmantajang.com – Banyak manusia merasa aman selama tidak ada orang yang melihat, padahal Dia mengetahui bisikan hatimu. Namun, selama tidak ada saksi, kamera, atau manusia lain, mereka merasa bebas berbuat apa saja.
Padahal dalam iman Islam, yang paling berbahaya bukanlah ketika manusia melihat, tetapi ketika Allah melihat. Dan Allah bukan hanya melihat perbuatan, tetapi juga mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.
Pentingnya Sikap Sami’na wa Atha’na (Kami Dengar dan Kami Taat)
Ketika turun ayat di akhir Surat Al-Baqarah Ayat 284:
لِّلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا۟ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Mereka merasa mampu melakukan amalan lahiriah seperti salat dan jihad, namun merasa tidak sanggup mempertanggungjawabkan bisikan hati atau was-was setan yang sulit dikontrol.
Baca Juga: Manusia Culas dan Krisis Kejujuran Zaman Ini
Pelajaran dari Nabi: Rasulullah memberikan tarbiyah (pendidikan) agar mereka tidak membangkang seperti kaum terdahulu (Ahlul Kitab) yang berkata “kami dengar dan kami tidak mau”.
Hasil Ketundukan: Nabi memerintahkan mereka untuk tetap berserah diri dan berucap “Sami’na wa Atha’na”. Atas ketundukan inilah, Allah kemudian memuji mereka dan menurunkan ayat yang memberikan keringanan.
Rahmat Allah Melalui Pengangkatan Beban yang Berat
Salah satu misi utama diutusnya Rasulullah adalah untuk mengangkat kesulitan dan beban berat yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Allah memberikan solusi atas ketakutan para sahabat dengan menegaskan bahwa Dia tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya.
Aturan Hisab yang Baru: Sebagai bentuk rahmat, Allah memberikan aturan bahwa bisikan-bisikan buruk dalam jiwa dimaafkan selama belum diwujudkan dalam perkataan atau perbuatan.
Baca Juga: Dilarang Putus Asa: Jalan Tauhid Para Mukmin
Keadilan dalam Niat: niat baik seseorang langsung dicatat sebagai satu kebaikan, sedangkan niat buruk belum akan dicatat sebagai dosa sampai orang tersebut benar-benar mengerjakannya,.
Mengembangkan Sikap Muraqabatullah (Merasa Diawasi Allah)
Meskipun ada keringanan terkait bisikan hati, sumber menekankan bahwa setiap Muslim harus tetap sadar akan kemahatahuan Allah.
Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, mulai dari apa yang disembunyikan dalam dada hingga jatuhnya sehelai daun.
Kesadaran dalam Kesendirian: Seseorang diingatkan untuk merasa malu kepada Allah saat muncul keinginan bermaksiat dalam kegelapan malam atau saat sendirian, karena Pencipta kegelapan itu tetap melihat segala sesuatu.
Keutamaan Rasa Takut yang Tersembunyi: Orang-orang yang memiliki rasa takut kepada Tuhannya saat tidak ada manusia lain yang melihat (bil ghaib) dijanjikan akan mendapatkan ampunan dan pahala yang sangat besar di sisi-Nya.




