Home Adab & Akhlak Jejak Persahabatan Islami: Dunia Menuju Surga

Jejak Persahabatan Islami: Dunia Menuju Surga

Suasana Islam
Ilustrasi suasana pertmenan islam/Unplash

Harmantajang.com – Jejak persahabatan islami, dunia menuju surga. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk sosial yang secara alamiah membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. 

Dalam lingkup pergaulan ini, teman memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian dan arah perjalanan hidup seseorang, baik itu dalam aspek agama maupun duniawi.

Setiap individu memiliki kecenderungan untuk terpengaruh oleh lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian yang besar terhadap proses pemilihan teman. 

Teman yang baik akan membawa seseorang kepada kebaikan, sebaliknya, teman yang buruk dapat menjerumuskan ke dalam keburukan.

Bahaya Salah Pilih Teman

Pemilihan teman yang buruk dapat membawa konsekuensi fatal, sebagaimana yang ditunjukkan oleh beberapa contoh sejarah. Firaun dilaknat dan dibinasakan karena teman buruknya, Haman. 

Bahkan, Abu Talib, paman Nabi Muhammad yang merupakan pelindung beliau, meninggal dalam keadaan kesyirikan karena terpengaruh oleh para pemuka Quraisy yang menjerumuskannya.

Baca Juga: Ketika Alam Berbicara: Tentara Allah sedang Turun!

Kesengsaraan akibat salah memilih teman juga digambarkan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman tentang hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya, menyesali perkataannya, dalam Surat Al-Furqan Ayat 28:

يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Artinya: Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).

Penyesalan ini menegaskan bahwa teman adalah salah satu faktor penentu arah perjalanan hidup kita, yang bisa berakhir bahagia atau sengsara, baik di dunia maupun di akhirat.

Perumpamaan dan Nasihat

Rasulullah telah memberikan bimbingan tegas mengenai pentingnya hal ini, sabdanya: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).

Baca Juga: Beramal Tanpa Lelah, Menuai Pahala Tanpa Batas!

Para sahabat dan ulama pun turut memberikan penekanan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan, “Jangan berteman dengan orang yang buruk akhlaknya, karena ia akan merusakmu tanpa engkau sadari”

 Imam Al-Ghazali juga menasihati agar kita berhati-hati dalam memilih teman dan hanya berteman dengan orang yang bisa membimbing kita menuju kebaikan.

Kriteria Teman yang Baik

Mengingat pentingnya selektivitas ini, kriteria dan ciri teman yang baik, yaitu: Beriman kepada Allah dan bertakwa. Al-Qur’an menyatakan bahwa teman-teman akrab pada Hari Kiamat akan saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa .

Senantiasa menjaga lisan dan perilaku kemudian selalu mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Sebagai penutup, umat muslim diajak untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dalam memilih teman dan lingkungan. 

Kita harus berusaha menjadi teman yang mengajak pada kebaikan, sehingga diharapkan kita dan teman-teman kita dapat berkumpul kembali di surga bersama orang-orang yang bertakwa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here