Harmantajang.com – Kekayaan dan kelapangan hidup sering dipandang sebagai tanda keberhasilan dan kebahagiaan. Memiliki harta yang cukup, pekerjaan yang baik, rumah yang nyaman, kesehatan, keluarga yang harmonis, serta kehidupan yang serba mudah tentu merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Hakikat Ujian: Ketika Kelapangan Menjadi Cobaan yang Menyamarkan
Dalam perjalanan hidup di dunia, manusia sering kali mengukur ujian hanya dari sisi penderitaan, kesempitan, atau kemiskinan semata. Padahal, secara hakiki, setiap takdir yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya merupakan lembaran ujian yang terus bergulir.
Kemiskinan adalah bentuk ujian, demikian pula halnya dengan kekayaan; kesempitan adalah ujian, demikian pula dengan kelapangan; bahkan rasa sakit dan kondisi tubuh yang sehat sama-sama menjadi media penguji kualitas iman.
Setinggi-tingginya karunia yang patut disyukuri di atas segalanya adalah nikmat Islam, Iman, dan Tauhid, sebab tanpa karunia tersebut seluruh kesenangan duniawi akan kehilangan nilai serta maknanya.
Baca Juga: Indahnya Istiqomah dalam Amal Shalih
Namun, kenyataan dalam kehidupan menunjukkan bahwa sangat sedikit manusia yang mampu selamat dan melepaskan diri dari jebakan ujian kelapangan, kedudukan, kekayaan, serta kenyamanan hidup.
Cermin Hikmah Bani Israil: Antara Kufur dan Ketulusan Syukur
Potret nyata tentang bagaimana manusia bersikap di hadapan ujian kelapangan diabadikan secara rinci dalam sebuah hadits shahih yang dituturkan oleh Rasulullah melalui sahabat Abu Hurairah RA.
Diceritakan bahwa dahulu ada tiga orang dari kalangan Bani Israil yang diuji dengan penyakit fisik dan kemiskinan: seorang penderita kusta, penderita kebotakan, dan penderita kebutaan.
Allah kemudian mengutus sesosok malaikat untuk menguji sejauh mana keteguhan dan kesadaran hati mereka.
Saat ditanya mengenai impian terbesarnya, si penderita kusta memohon kulit yang indah dan diberi seekor unta betina yang sedang hamil. Si penderita kebotakan menginginkan rambut yang indah lalu dikaruniai seekor sapi betina yang sedang hamil.
Sementara itu, si penderita kebutaan hanya berharap penglihatannya dipulihkan agar dapat melihat sesama, lalu dianugerahi seekor kambing betina yang sedang hamil.
Seiring berjalannya waktu, hewan-hewan tersebut berkembang biak dengan sangat pesat hingga masing-masing dari mereka memiliki kawasan peternakan yang memenuhi satu lembah luas.
Ujian yang sesungguhnya baru dimulai ketika malaikat kembali mendatangi mereka dengan menyamar sebagai musafir miskin yang menderita penyakit persis seperti kondisi awal mereka dahulu.
Malaikat mendatangi si pemilik unta dan meminta bantuan seekor unta saja demi menyambung perjalanannya yang terputus.
Namun, si pemilik unta menolak secara tegas dengan alasan memiliki banyak kewajiban lain, bahkan dengan sombong memungkiri karunia Allah dan mengklaim harta tersebut hanyalah warisan dari nenek moyangnya.
Sikap dingin dan penuh keangkuhan serupa juga ditunjukkan oleh si pemilik sapi yang enggan berbagi. Akibatnya, malaikat mendoakan agar Allah mengembalikan keduanya ke dalam kondisi miskin dan menderita seperti sedia kala.
Pemandangan yang berbanding terbalik ditunjukkan oleh si pemilik kambing. Dengan penuh kerendahan hati, ia jujur mengakui keadaannya yang dahulu buta serta miskin, lalu mempersilakan sang musafir mengambil harta sebanyak yang diinginkan tanpa rasa berat hati sedikit pun.
Baca Juga: Syukur di Tengah Ujian: Belajar dari Mereka yang Lebih Susah
Ketulusan dan kesadarannya dalam mengakui nikmat Allah mendatangkan keridhaan Ilahi, sementara kemungkaran kedua temannya mendatangkan kemurkaan-Nya.
Menjaga Istiqamah: Mengikat Hati dalam Ketaatan dan Kepedulian
Pelajaran mendalam yang dipetik dari ikhtibar Nabawiyah tersebut menegaskan betapa hancurnya kehidupan seorang hamba ketika ia kehilangan kesadaran atas karunia yang dititipkan kepadanya. Keberlimpahan harta kerap membuat seseorang lupa diri, sebagaimana peningkatan jabatan dari pegawai biasa menjadi atasan tidak jarang mengubah karakter seseorang menjadi angkuh dan zalim kepada bawahannya.
Oleh sebab itu, prinsip utama yang wajib dipegang teguh oleh setiap muslim adalah konsistensi dalam ketaatan pada setiap episode kehidupan.
Jika saat berada dalam kemiskinan atau status bawahan ia mampu taat beribadah, maka tatkala dikaruniai kekayaan dan kedudukan yang tinggi, tingkat ketaatan dan rasa syukurnya sepatutnya menjadi jauh lebih melimpah.
Sebagai manifestasi nyata dari rasa syukur atas kelapangan dan keamanan yang dinikmati hari ini, seorang muslim juga dituntut untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama.
Di saat kita menikmati kenyamanan hidup, saudara-saudara seiman di Gaza dan Palestina masih didera kezaliman serta pembantaian. Demikian pula saudara-saudara kita di Sudan yang menghadapi penderitaan akibat konflik internal.
Menyelipkan doa-doa tulus untuk keselamatan dan kemenangan mereka di waktu-waktu mustajab merupakan wujud empati sekaligus bukti ketaatan kita kepada Allah.




