Kebahagiaan Sejati, Ujian Dunia, dan Persaksian Akhirat

langit
Ilustrasi langit dan bumi/Istock

Harmantajang.com – Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang bersifat hakiki dan abadi, tidak bergantung pada materi, jabatan, atau kondisi dunia yang fana. Dalam Islam, kebahagiaan sejati terletak pada kedekatan dengan Allah.

Apa itu Kebahagiaan Sejati?

Setiap manusia di muka bumi mengimpikan dan menginginkan kebahagiaan. Namun, banyak manusia, bahkan mungkin termasuk kita, yang gagal meraihnya karena salah mendefinisikan apa itu “kebahagiaan sejati”.

Kesalahan Definisi Duniawi: Banyak yang mendefinisikan kebahagiaan sebagai harta dan materi yang berlimpah. Manusia berkejaran dengan waktu, bersimbah keringat demi mengejar rupiah. 

Namun, setelah harta berlimpah, yang dirasakan hanyalah rasa senang dan gembira, bukan kebahagiaan. Demikian pula, ada yang mendefinisikannya sebagai jabatan dan kedudukan, merasa terhormat dan dijunjung oleh manusia; namun, setelah meraihnya, kebahagiaan sejati tetap tidak dirasakan.

Jalan Kebahagiaan Hakiki: Allah Azza wa Jalla, melalui Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajarkan bahwa manusia ciptaan Allah tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati kecuali ketika jalan hidup kita adalah jalan penghambaan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Manusia tidak akan mencicipi rasa bahagia yang sesungguhnya sampai hidup dijalani sepenuhnya sebagai jalan penghambaan yang berujung pada kebahagiaan abadi di Akhirat.

Baca Juga: Minuman Keras adalah Akar Kejahatan!

Mengubah Paradigma Dunia sebagai Tempat Ujian

Untuk menemukan kebahagiaan sejati, kita harus mengubah paradigma tentang dunia ini. Dunia ini bukan tempat kebahagiaan sejati, melainkan hanya tempat singgah dan melintas, diposisikan sebagai tempat untuk menyiapkan bekal pulang ke negeri Akhirat.

Semua yang kita alami di dunia adalah ujian demi ujian untuk membuktikan bahwa kita layak mendapatkan bahagia sejati di Akhirat nanti. Tidak ada yang terkecuali dari ujian ini:

Kondisi kaya adalah ujian, dan kondisi miskin juga ujian, Mendapatkan jabatan adalah ujian, dan tidak punya jabatan juga ujian, Sukses adalah ujian, dan gagal juga ujian dan Menikah adalah ujian, dan tidak menikah pun juga ujian.

Kita diingatkan bahwa Allah pasti akan menguji setiap hamba, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ 

Artinya: Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.

Profil Hamba Sejati dan Sikap Terhadap Dunia

Baca Juga: Musibah: Pembelajaran Menuju Kesadaran

Hamba Allah yang sejati, yang pasti akan meraih kebahagiaan sejati. Mereka bukanlah hamba yang larut dalam ibadah hingga mengabaikan kehidupan dunia; mereka tetap berbisnis, bertransaksi, bekerja, dan belajar.

Yang membuat mereka istimewa adalah bahwa semua kesibukan dunia itu tidak pernah membuat mereka lalai dan lupa mengingat Allah Ta’ala. Ciri-ciri mereka antara lain:

Prioritas Ibadah: Saat adzan berkumandang, mereka segera memenuhi panggilan Allah untuk bersujud.

Kewajiban Harta: Saat hartanya mencapai nishab dan haul, mereka segera mengeluarkan zakatnya.

Amanah dalam Pekerjaan: Saat bekerja di kantor, mereka menunaikannya dengan penuh amanah dan tidak pernah terpikirkan sedikitpun untuk korupsi atau mengambil uang negara.

Integritas Bisnis: Saat menjalani bisnis, mereka memastikan bisnisnya halal, tidak menzalimi orang lain, atau dijalankan dengan cara yang curang (culas).

Mereka bertindak demikian karena mereka sadar dunia ini hanya sementara, kematian bisa datang kapan saja, dan akan tiba masanya mereka berdiri di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segalanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here