Kehidupan yang Singkat: Menemukan Makna Kefanaan Dunia

Masjid
Majid di malam hari/Unplash

Harmantajang.com – Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, perlu  diingat bahwa kehidupan duni ini Singkat dan penuh Kefanaan. Sering kali manusia terjebak dalam rutinitas yang membuatnya lupa akan jati diri dan tujuan akhir perjalanannya.

Islam memberikan pandangan yang sangat mendasar bahwa dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya sebuah jembatan atau tempat persinggahan sementara.

Ungkapan hikmah menyebutkan bahwa dunia adalah darul mumar (tempat melintas), sedangkan akhirat adalah darul maqar (tempat menetap yang kekal).

Dunia Sebagai Persinggahan Seorang Musafir

Rasulullah menggambarkan posisi manusia di dunia seperti seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh.

Keberadaan beliau di dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya. Analogi ini mengajarkan bahwa meskipun kita boleh menikmati fasilitas dunia.

Baca Juga: Makna Kekayaan: Antara Tipu Daya Dunia

Tapi kita tidak seharusnya membangun kemapanan yang seolah-olah kita akan hidup selamanya di sana, karena tujuan sesungguhnya adalah perjalanan menuju kampung halaman yang abadi di akhirat.

Bahaya Tertipu oleh Perhiasan Dunia

Salah satu penyakit hati yang paling besar adalah ketika manusia mulai menjadikan dunia sebagai ukuran segala sesuatu, baik itu kebahagiaan yang diukur dengan harta, maupun kemuliaan yang diukur dengan jabatan.

Allah  telah memberikan peringatan tegas agar manusia tidak terperdaya oleh kehidupan dunia. Rasulullah bahkan mengumpamakan rendahnya nilai dunia di sisi Allah lebih hina daripada bangkai anak kambing yang cacat.

Namun sayangnya banyak manusia yang justru rela mengorbankan agama dan menjatuhkan sesama demi merebut sesuatu yang tidak bernilai tersebut.

Memperbaiki Orientasi: Dunia di Tangan, Akhirat di Hati

Hakikat perjuangan seorang mukmin bukanlah dengan meninggalkan dunia secara fisik, melainkan menanggalkan ketergantungan hati terhadapnya.

Baca Juga: Jagalah Allah, Maka Allah Akan Menjagamu: Esensi dan Keutamaannya

Seorang muslim diperbolehkan kaya dan memiliki usaha, asalkan dunia berada di tangannya untuk digunakan sebagai sarana ibadah, bukan di dalam hatinya sebagai tujuan utama.

 Rasulullah menjanjikan bahwa barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, memudahkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.

Kesimpulan, Sebagai bekal perjalanan, tidak ada kekayaan yang lebih berharga daripada ketakwaan kepada Allah.

Dengan menjadikan akhirat sebagai orientasi utama, menggunakan dunia sebagai sarana menuju ridha Allah, serta senantiasa memperbanyak amal saleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here