Kekuasaan Tanpa Amanah, Jalan Menuju Murka Allah

Sidang
Ilustrasi Palu sidang/Unplash

Harmantajang.com – Dalam pandangan Islam, kekuasaan bukanlah kemuliaan, melainkan amanah besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ketika kekuasaan dijalankan tanpa amanah tanpa kejujuran, keadilan, dan ketakwaan maka ia berubah dari sarana ibadah menjadi jalan menuju murka Allah.

Beratnya Pertanggungjawaban di Hadapan Allah

Kepemimpinan bukanlah sekadar status sosial, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya secara detail di Hari Kiamat.

Setiap pemimpin diibaratkan sebagai seorang penggembala yang bertanggung jawab penuh atas apa yang digembalakannya.

Lingkup tanggung jawab ini sangat luas, mencakup kesejahteraan rakyat, kelestarian flora dan fauna, hingga penggunaan sumber daya alam seperti tanah, air, dan udara di wilayah kepemimpinannya. 

Baca Juga: Menjemput Masa Depan dengan Amal Saleh

Jika seorang calon pemimpin benar-benar merenungkan betapa menakutkannya proses hisab (perhitungan amal) di akhirat nanti, maka nafsu untuk berkuasa tersebut pasti akan meredup.

Sehingga dalam Surat Shad Ayat 26 Allah berfirman:

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

Artinya: Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Daya Rusak Nafsu Kekuasaan terhadap Agama

Nafsu manusia untuk mengejar harta dan kedudukan memiliki daya rusak yang sangat dahsyat terhadap kualitas agamanya. 

Rasulullah memberikan perumpamaan bahwa dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan domba tidak lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang terhadap jabatan.

Meskipun jabatan tampak berkilau dan menyenangkan saat pertama kali diraih, tanpa dibarengi dengan keadilan, posisi tersebut hanya akan berujung pada tiga hal: celaan di dunia, penyesalan mendalam, dan azab yang pedih di akhirat.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048).

Keteladanan Pemimpin yang Takut kepada Akhirat

Para pemimpin shalih terdahulu, seperti Khulafa’urrasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), menunjukkan sikap yang sangat kontras dengan pemburu jabatan masa kini; mereka justru sering menangis karena memikul beban kepemimpinan. 

Baca Juga: Dunia ini ‘Bangkai’, Mengapa kita Masih Berebut?

Mereka memimpin dengan hati yang penuh rasa takut pada pengadilan Allah dan tidak pernah menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri atau kelompoknya.

Sebagai contoh, Khalifah Umar bin al-Khattab menangis hingga janggutnya basah karena diingatkan bahwa ia akan ditanyai oleh Allah di hari pembalasan mengenai nasib rakyatnya yang miskin dan kelaparan,.

Analoginya, mengejar kekuasaan karena nafsu ibarat memegang bara api yang terbungkus kain sutra; dari luar tampak indah dan mewah. 

Namun di dalamnya terdapat panas yang sanggup menghanguskan tangan pemegangnya jika tidak dikelola dengan sangat hati-hati dan penuh tanggung jawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here