Harmantajang.com – Istighfar, permohonan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu bentuk ibadah paling mulia yang memiliki Kekuatan Istighfar: Solusi Dunia Akhirat.
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dosanya telah diampuni oleh Allah dan telah mendapatkan jaminan ampunan, selalu memperbanyak istighfar. Beliau bisa beristighfar 70 hingga 100 kali dalam satu majelis, bahkan memerintahkan para sahabat dan umatnya untuk memperbanyak istighfar.
Teladan Para Nabi dan Hikmah di Baliknya
Amalan istighfar telah dilakukan oleh nabi-nabi Allah sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Adam ‘alaihi salam, setelah melanggar janji kepada Allah karena lupa, banyak beristighfar ketika diturunkan ke dunia, memohon ampunan Allah dengan doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Surat Nuh Ayat 28:
رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا
Artinya: Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.
Baca Juga: Surga dan Kenikmatan Abadi Di Dalamnya!
Ini menunjukkan bahwa istighfar adalah kunci pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang bersalah. Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan bersumpah bahwa Dia akan senantiasa mengampuni dosa-dosa hamba-Nya selama mereka terus meminta ampunan dan beristighfar, sebagai balasan atas sumpah Iblis yang akan terus menyesatkan manusia.
Manfaat dan Keberkahan Istighfar dalam Kehidupan Sehari-hari
Kekuatan istighfar tidak hanya terbatas pada ampunan dosa, tetapi juga membawa solusi bagi berbagai masalah kehidupan dunia. Kisah Al-Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah menjadi bukti nyata akan hal ini.
Ketika banyak orang datang kepadanya mengadukan masalah yang berbeda-beda—mulai dari kekeringan karena hujan tak turun, belum dikaruniai keturunan setelah lama menikah, hingga terlilit utang.
Al-Imam Al-Hasan Al-Basri memberikan satu solusi yang sama kepada mereka semua: “Perbanyaklah istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Beliau menjelaskan bahwa ini bukan perkataannya, melainkan firman Allah dalam Al-Qur’an.
Istighfar di Setiap Keadaan
Istighfar tidak hanya dilakukan setelah berbuat dosa. Kita diajari untuk beristighfar bahkan setelah melakukan ketaatan kepada Allah, karena bisa jadi ketaatan yang kita lakukan belum sempurna atau sesuai dengan yang diinginkan Allah.
Misalnya, setelah selesai salat lima waktu, meskipun kita baru saja beribadah, kita mengucapkan “Astagfirullah al-Azim” tiga kali. Demikian pula, setelah puncak ibadah haji yaitu wukuf di Padang Arafah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk bertasbih, memohon ampun, dan beristighfar.
Luqman Al-Hakim menasihati anaknya, “Wahai anakku, perbanyaklah istighfar kepada Allah, usahakan lisanmu senantiasa basah dengan istighfar”.
Mengapa? Karena ada waktu-waktu di mana Allah mengabulkan doa, dan pada saat itu, jika kita beristighfar, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita dan kita akan mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat.
Baca Juga: Jenis, Perbedaan dan Konsekuensi dari Sifat Syirik
Pelajaran dari Imam Ahmad
Imam Ahmad rahimahullah pernah singgah di sebuah desa dan tidak memiliki tempat menginap. Setelah diusir dari masjid, ia bertemu dengan seorang pedagang roti. Imam Ahmad memperhatikan pedagang roti itu selalu mengucapkan “Astagfirullah al-Azim” setiap kali membuat adonan.
Ketika ditanya, pedagang roti itu berkata bahwa berkat istighfarnya, semua doanya telah dikabulkan kecuali satu: ia ingin bertemu dengan Imam Ahmad. Seketika itu, Imam Ahmad memperkenalkan dirinya, menjelaskan bahwa istighfar pedagang roti itulah yang menyebabkan dirinya didatangkan oleh Allah untuk bertemu dengannya.
Kisah ini semakin menguatkan sabda Nabi:
مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanad-nya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).
Mari kita jadikan lisan kita senantiasa basah dengan istighfar, mengakui dosa-dosa kita, dan memohon ampunan kepada Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah, mengisi malam dengan permohonan ampunan, dan banyak beristighfar di waktu sahur.




