Home Aqidah Kematian: Antara Peristirahatan dan Meringankan Makhluk

Kematian: Antara Peristirahatan dan Meringankan Makhluk

Lorong
Ilustrasi suasana lorong gelap/Istock

Harmantajang.com – Kematian adalah kepastian dan akan menjadi  peristirahatan diri dan meringankan makhluk. Namun dampaknya pada diri seseorang dan lingkungan sekitar terbagi menjadi dua kategori besar. 

Kematian dapat dikelompokkan menjadi Mustarih dan Mustarah. Pemahaman ini membantu kita merenungkan bagaimana kita ingin menjalani hidup, sehingga saat meninggalkan dunia, kematian kita menjadi berkah, bukan bencana bagi orang lain.

Kematian Sebagai Peristirahatan (Mustarih)

Mustarih adalah orang yang beristirahat dengan kematiannya. Kematian bagi orang beriman adalah peristirahatan dari dunia yang penuh dengan kepenatan. 

Hal ini sejalan dengan doa yang diajarkan Nabi Muhammad yaitu memohon agar hidup dijadikan kesempatan untuk menambah kebaikan, dan kematian dijadikan peristirahatan dari segala keburukan.

Bagi seorang Mustarih, orang yang beriman, ketika meninggal, ia akan beristirahat dari dunia yang melelahkan. Kuburnya akan menjadi taman dari taman-taman surga. Kepergian orang yang beriman ini menimbulkan kesedihan dan rasa kehilangan yang mendalam. 

Orang-orang saleh merasa kehilangan, dan mereka mendoakannya dengan tulus. Ibnu Abbas R.A menyebutkan bahwa jika yang meninggal adalah orang yang beriman kepada Allah, ia akan ditangisi oleh seluruh makhluk, bahkan langit dan bumi. 

Orang-orang saleh merasa kehilangan bumi yang ia pijak.Perlu dicatat bahwa bumi yang kita pijak akan menjadi saksi di hari kiamat. Bumi tuhaditu akbar (akan bercerita/bersaksi) di hadapan Allah tentang segala perbuatan kita, termasuk langkah-langkah kaki menuju ke masjid.

Baca Juga: 5 Kiat-Kiat Menjaga Istiqamah

Kematian yang Meringankan Makhluk (Mustarah)

Sebaliknya, ada kematian yang disebut Mustarah. Mustarah artinya makhluk yang beristirahat darinya. Ini adalah jenis kematian yang kepergiannya justru disyukuri oleh makhluk atau masyarakat di sekitarnya.

Contoh historis dari kematian Mustarah adalah saat Allah menenggelamkan Firaun. Allah berfirman Surat Ad-Dukhan Ayat 29:

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ ٱلسَّمَآءُ وَٱلْأَرْضُ وَمَا كَانُوا۟ مُنظَرِينَ

Artinya: Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang ketika meninggal, orang lain bahkan mengucapkan, “Alhamdulillah, mati nih!”. 

Kematian orang tersebut disyukuri karena masyarakat merasa aman dan terbebas dari keburukan yang dilakukannya, meskipun kita berharap tidak termasuk golongan yang seperti itu.

Kematian seperti ini terkadang menyebabkan orang-orang buruk yang sejenis dengannya bersedih, tetapi bukan itu yang dimaksud dengan kesedihan yang sejati. Yang dimaksud adalah kesedihan yang tulus dari orang-orang saleh atas kepergian Mustarih.

Baca Juga: Kisah Abu Mihjan: Ksatria yang Dihukum di Medan Jihad

Hikmah Kelahiran dan Kematian

Untuk menghindari menjadi golongan Mustarah dan meraih kebahagiaan Mustarih, terdapat sebuah perkataan hikmah yang indah mengenai hidup dan mati. Kita terlahir ke dunia ini dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekeliling kita tertawa bahagia dan gembira. 

Para ulama atau ahli hikmah menyarankan agar kita berusaha pada saat kita meninggalkan dunia ini, kitalah yang tertawa (merasa lega dan tenang) dan orang yang berada di sekeliling kita itu yang menangis (karena kehilangan).

Tujuan utamanya adalah jangan sampai kita menangis dua kali, yaitu menangis saat masuk ke dunia dan menangis lagi ketika meninggalkan dunia ini. Kita harus berusaha agar hidup kita di dunia menjadi kesempatan untuk menambah kebaikan, sehingga kematian kita menjadi peristirahatan yang damai dan diridhai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here