Home Aqidah Kematian yang Mustarih dan Mustarah, Pahami Perbedaannya!

Kematian yang Mustarih dan Mustarah, Pahami Perbedaannya!

Suasana Hutan
Ilustrasi dan Suasana Hutan gelap/Unplash

Harmantajang.com – Kematian adalah sebuah kepastian, namun ada yang disebut kematian mustarih dan mustarah, dan pahami perbedaannya. Kematian akan membawa dampak bagi yang meninggal dan bagi makhluk di sekitarnya.

Terdapat dua istilah utama yang menjelaskan kualitas akhir hidup seseorang dan penting memahami perbedaan keduanya untuk merenungkan tujuan dan hasil dari perjalanan hidup di dunia.

Kematian Mustarih: Peristirahatan bagi Orang Beriman

Mustarih merujuk pada kondisi orang yang meninggal dan beristirahat dengan kematiannya. Kematian bagi orang beriman adalah peristirahatan dari segala keburukan dan kepenatan dunia. 

Konsep ini selaras dengan doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, yaitu memohon agar hidup dijadikan kesempatan untuk menambah kebaikan, dan kematian dijadikan peristirahatan dari segala keburukan.

Bagi seorang mustarih, kepergiannya menyebabkan duka cita dan rasa kehilangan. Tidak hanya manusia, namun menurut Ibnu Abbas (sebagaimana dikutip dalam sumber), jika yang meninggal adalah orang yang beriman, ia akan ditangisi oleh seluruh makhluk, bahkan langit dan bumi. Orang-orang saleh akan merasakan kehilangan.

Baca Juga: 3 Pilar ‘Berbisnis’ dengan Allah yang Tak Pernah Rugi

Lebih lanjut, bumi yang ia pijak selama hidupnya pun akan bersaksi di hari kiamat atas ibadahnya. Bumi “bercerita” (tuhaditu akbar) tentang segala yang dilakukan, termasuk langkah-langkah kaki yang menuju ke masjid. 

Karena kualitas hidupnya, ketika ia meninggal, orang-orang mendoakannya, seperti allahumfirlahu warhamu. Kuburnya pun dijanjikan menjadi taman dari taman-taman surga.

Kematian Mustarah: Makhluk Beristirahat Darinya

Tipe kematian yang kedua disebut Mustarah. Mustarah berarti makhluk yang beristirahat darinya. Ini adalah jenis kematian yang justru mendatangkan rasa syukur dan lega bagi orang-orang di sekitarnya.

Kematian tipe ini adalah ketika kepergian seseorang disyukuri. Misalnya, orang-orang bisa berkata, “alhamdulillah, mati ni,” atau menyatakan bahwa kampung atau lingkungan sudah “aman” karena ketiadaan orang tersebut. 

Hal ini menunjukkan bahwa semasa hidupnya, orang tersebut dikenal bukan karena kebaikan. Yang berduka atas kepergiannya hanyalah orang-orang buruk yang sejenis dengannya, bukan orang-orang saleh.

Contoh historis yang sangat kuat untuk tipe mustarah adalah peristiwa tenggelamnya Firaun. Allah menyatakan bahwa langit dan bumi tidak menangisi kehancuran Firaun bersama dengan bala tentaranya.

Pelajaran Hikmah: Tujuan Akhir Kehidupan

Ada perkataan hikmah yang sangat indah yang menghubungkan kelahiran, hidup, dan kematian. Kita terlahir ke dunia ini dalam keadaan menangis, sementara orang-orang yang ada di sekeliling kita tertawa bahagia dan gembira.

Seorang ahlul hikmah atau ulama menasihati kita untuk berusaha menjalani hidup sehingga: Pertama, saat kita hadir di dunia, biarlah kita yang menangis (dalam perjuangan) dan orang yang ada di sekeliling kita tertawa.

Baca Juga: Hidup Terasa Sempit? Inilah Jalan Keluar Menurut Islam

Kedua, Saat kita meninggalkan dunia, usahakanlah kita yang tertawa, dan orang yang berada di sekeliling kita itu yang menangis (karena kehilangan kita).

Nasihat ini mengandung pesan mendalam untuk menghindari tangisan dua kali: menangis saat masuk ke dunia dan menangis lagi (karena penyesalan atau siksa) ketika meninggalkan dunia ini. 

Tujuannya adalah memastikan bahwa kita mencapai kategori mustarih, di mana kematian membawa peristirahatan yang membahagiakan bagi diri sendiri, dan meninggalkan warisan kebaikan yang membuat orang lain (yang saleh) merasa kehilangan dan mendoakan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here