Ketika Hidup Menguji, Harapan Harus Tetap Hidup!

Galau
Ilustrasi seorang sedang galau/Unplash

Harmantajang.com – Sepanjang hidup selalu ada masalah, namun ketika hidup menguji harapan harus tetap hidup dan seorang muslim sepenuhnya bergantung dan menggantungkan seluruh aspek hidupnya tanpa kecuali hanya kepada Allah.

Begitu juga ketika terjebak dalam masalah dan kesulitan, meskipun semua pintu tampak tertutup, dan dalam perhitungan manusia tidak ada lagi peluang, seorang muslim harus selalu tidak boleh putus asa dan menutup pintu harapan. 

Larangan Putus Asa

Allah berfirman dalam Surat Yusuf Ayat 87:

يَٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Pesan ini disampaikan oleh Nabi Yaqub ‘alaihissalam kepada anak-anaknya saat menyuruh mereka mencari saudara mereka, Yusuf ‘alaihissalam

Bayangkan, meskipun Nabi Yaqub kehilangan penglihatannya karena duka yang mendalam setelah mendengar berita bohong bahwa putranya dimangsa serigala, ia tidak pernah kehilangan harapan kepada Allah. 

Kesedihan yang mendalam tidak menjadi alasan untuk memadamkan api harapannya kepada Sang Pengatur alam semesta.Tidaklah masalah untuk bersedih atau menangis karena itu adalah hal yang manusiawi. 

Namun, kesedihan dan tangisan itu tidak boleh menghapuskan harapan dan optimisme kita kepada Allah Ta’ala, seberat apa pun cobaan yang melintang. Allah juga berfirman dalam Surat Al-Hijr Ayat 56:

قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ

Artinya: Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”.

Baca Juga: Hati Mulai Mengeras: Taubatlah Sebelum Terlambat!

Ini menunjukkan bahwa putus asa dari rahmat Allah Ta’ala adalah ciri dan karakter manusia-manusia yang tersesat dari jalan Allah. 

Hamba-hamba yang mengenal dan meyakini kemahabesaran Allah, meyakini bahwa Allah Maha kuasa melakukan apa yang dianggap mustahil, serta Maha luas rahmat dan kasih sayang-Nya lagi Maha Adil, seharusnya tidak layak berputus asa.

Bukti Pertolongan Allah

Sejarah kehidupan manusia telah membuktikan berkali-kali bagaimana Allah menghadirkan jalan keluar bagi hamba-hamba-Nya dari sisi yang tak pernah terduga, bahkan dianggap mustahil.

Nabi Nuh ‘alaihissalam diselamatkan dengan bahtera yang dibuat di puncak gunung.Kemudian, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diselamatkan dengan diubahnya tabiat api yang panas menjadi dingin.

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam diselamatkan dengan sebilah tongkat yang membelah laut. Semua kisah ini menjadi penguat keimanan dan keyakinan kita agar kita tidak pernah menghapus harapan dan optimisme terhadap keMahabesaran dan keMahakuasaan Allah. 

Kita diyakinkan bahwa jalan-jalan kemudahan yang dikaruniakan-Nya akan hadir setelah semua kesulitan yang ditakdirkan-Nya.

Pertolongan Allah akan datang setelah kita memasrahkan diri hanya kepada-Nya dalam setiap kesulitan, menangis memelas meminta rahmat-Nya, dan setelah kita memutuskan semua harapan kepada sesama makhluk, hanya menggantungkannya pada Sang Khaliq.

Oleh karena itu, berhentilah bersikap pesimis dan teruslah optimis, karena jalan keluar itu mungkin hanya berjarak beberapa langkah lagi di depan sana.

Ujian Harapan Masa Kini

Saat ini, terdapat dua peristiwa besar yang menguji harapan dan kekuatan optimisme kita pada pertolongan Allah.

Baca Juga: Amal Tak Boleh Padam: Kunci Dicintai Allah

Pertama, Tragedi Penjajahan Zionis Yahudi di Palestina/Gaza: Peristiwa ini menguji keyakinan kita pada janji Allah tentang kemenangan. 

Ketegaran kaum muslimin Palestina selama lebih dari 300 hari menunjukkan bahwa mereka memiliki harapan dan optimisme pada janji Allah Ta’ala, dan mereka yakin bahwa penderitaan yang dialami hanyalah pra-syarat untuk menerima kemenangan yang akan datang.

Kedua, Tragedi Politik dan Hukum di Negeri Kita: Tragedi ini dipermainkan dan dilecehkan demi kepentingan pihak tertentu yang haus kekuasaan, dan mungkin menyebabkan sebagian dari kita kehilangan harapan terhadap masa depan bangsa dan negara.

Namun, kita harus terus belajar untuk yakin dan optimis bahwa jalan keluar itu pasti ada dan pasti hadir ketika kita memenuhi syarat untuk menerimanya, yaitu dengan memperbaiki kualitas dan kuantitas hubungan kita dengan Allah.

Kita harus yakin bahwa yang zalim pasti akan tumbang, dan yang curang pasti akan mendapatkan balasan setimpalnya, karena Sunnatullah memang demikian sejak dahulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here