Harmantajang.com – Kehidupan manusia seringkali terjebak dalam perlombaan mengumpulkan harta benda, padahal makna kekayaan kadang berada di antara tipu daya dunia Fana
Hingga sering muncul pertanyaan mengapa sebagian orang diberikan kelimpahan sementara yang lain hidup dalam keterbatasan?.
Mencela Perbudakan Harta: Bahaya Menjadi “Hamba Dinar”
Rasulullah telah memperingatkan tentang kehancuran orang-orang yang menjadi “hamba dinar”, “hamba dirham”, maupun “hamba pakaian”.
Baca Juga: Jagalah Allah, Maka Allah Akan Menjagamu: Esensi dan Keutamaannya
Menjadi hamba harta berarti seluruh waktu, kebahagiaan, kesedihan, bahkan tangisannya hanya dicurahkan untuk urusan duniawi hingga melupakan persiapan untuk akhirat.
Fenomena ini terlihat jelas pada orang-orang yang diperbudak oleh gengsi dan mode, seperti mengoleksi barang-barang mewah secara berlebihan hanya untuk mendapatkan pengakuan sosial atau status.
Sifat ini juga menyerupai karakter orang munafik yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu mereka yang hanya merasa senang jika mendapatkan pemberian duniawi.
Antara Usaha dan Tawakal: Teladan Para Nabi dalam Mencari Nafkah
Meskipun Islam mencela perbudakan dunia, bukan berarti seorang Muslim harus meninggalkan dunia sepenuhnya atau hanya berdiam diri di masjid menunggu bantuan turun dari langit.
Para nabi dan rasul pun bekerja untuk mencari nafkah; Nabi Muhammad berdagang di pasar, Nabi Musa menggembala kambing, dan Nabi Daud bekerja sebagai pandai besi yang makan dari hasil keringatnya sendiri.
Hal ini mengajarkan bahwa tawakal yang benar tidak menafikan usaha atau asbab. Sebagaimana seekor burung yang keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.
Baca Juga: Di Tengah Kesulitan, Harapan Tetap Ada!
Memahami Keadilan Allah: Rezeki sebagai Bentuk Perlindungan
Seringkali manusia merasa tidak adil ketika usahanya tidak menghasilkan kekayaan yang ia harapkan, namun sebenarnya Allah membagi rezeki di antara manusia dengan hikmah yang dalam.
Ada rezeki yang kita cari melalui usaha, dan ada pula rezeki yang mendatangi kita karena sudah ditentukan oleh Allah. Terkadang, Allah menghalangi seseorang dari kekayaan duniawi justru perlindungan-Nya.
Sebagaimana kita menghalangi orang sakit dari makanan tertentu agar ia tidak bertambah parah, Allah mungkin membiarkan seseorang tetap miskin karena Ia tahu bahwa kekayaan justru akan merusak iman orang tersebut.




