Maksimalkan Ikhtiarmu dan Biarkan Takdir-Nya yang Menentukan

0
487
Seorang muslim sedang berdoa/Unsplash

Harmantajang.com – Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rejekimu, dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu”. (QS. Adz Zariyat: 22).

Sebagian ulama menafsirkan رِزْقُكُمْ   dalam ayat ini adalah awan dan hujan, sebagaimana firman-Nya:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

“Dialah Tuhan yang menurunkan hujan dari langit bagi kalian. Diantara air hujan itu ada yang menjadi minuman, ada yang menumbuhkan pepohonan, dan ada pula yang menumbuhkan rerumputan yang menjadi makanan bagi ternak kalian”. (Q.S An-Nahl: 10).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan ke dalam benakku bahwa jiwanya tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencahariaanmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada disisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya”. (HR. Abu Dzar dan Al Hakim).

Tawakkal yang sebenarnya adalah setelah seseorang itu memaksimalkan ikhtiar atau usaha. Burung dipermisalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kesempurnaan tawakkal namun burung tersebut tidak tinggal disarangnya.

Bahkan dia keluar dalam keadaan dan kondisi yang lapar namun dia mencari dengan paruhnya, cakarnya bahkan dia bawakan makanan untuk anak-anaknya yang ada disarang.

Jadi tawakkal yang sempurna adalah ketika seseorang telah memaksimalkan usahanya baru setelah itu ia menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (QS. Ath-Thalaq: 3).

Sifat tawakkal akan mewariskan dalam hati seorang hamba ketenangan, kelapangan karena ketika dia telah mengerahkan seluruh usahanya dia sadar dan yakin bahwa setelahnya yang terbaik adalah apa yang ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Walaupun mungkin dimatanya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan atau apa yang ia usahakan. Salah seorang sahabat yang bernama Ubadah Ibn Shamit berkata:

”Engkau tidak akan merasakan lezatnya hidup sampai engkau mengetahui apa yang sudah ditentukan untukmu maka tidak ada yang mampu mencegahnya dan apa yang bukan untuk mu tidak ada yang mampu memberikannya”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here