Harmantajang.com – Setiap muslim yang taat tentu mendambakan akhir hidup yang baik (husnul khatimah). Namun, manipulasi Setan selau ada bahkan ada pelajaran dari Ahli Ibadah yang Tergelincir.
Perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun yang berada pada titik aman dari fitnah selama nyawanya masih dikandung badan. Rasa aman karena merasa sudah taat atau rajin beribadah justru bisa menjadi celah bagi setan untuk menipu.
Oleh karena itu, dalam setiap salat, kita selalu memohon ‘Tunjukkanlah kami jalan yang lurus’, sebagai pengakuan bahwa kita senantiasa butuh bimbingan Allah.Perjuangan melawan setan ini berlangsung hingga napas terakhir.
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Barsisa
Baca Juga: Nikmat sebagai Ujian dan Mengingat Kematian sebagai Tujuan
Dalam sebuha Kisah Imam Ahmad bin Hanbal menjadi bukti nyata. Di akhir hayatnya, saat tidak sadarkan diri, setan datang kepadanya seolah-olah menyerah dan berkata, “Kau sudah selamat wahai Ahmad, aku tidak bisa menggelincirkanmu lagi”
Dengan sisa kesadarannya, Imam Ahmad yang tahu ini adalah tipu daya terakhir, menolak dan berkata, “Lamma ba’d, lamma ba’d” (Belum, belum). Ini menunjukkan bahwa godaan akan terus datang sampai ruh benar-benar terpisah dari jasad.
Kisah yang paling mengerikan tentang manipulasi setan adalah kisah Barsisa, seorang ahli ibadah (ahlu ibadah) di zamannya. Kisahnya menunjukkan betapa lihai dan sabarnya setan dalam menjerumuskan manusia.
Awalnya, Barsisa menolak untuk dititipi seorang wanita oleh tiga saudara laki-lakinya yang akan pergi berjihad, karena ia sadar itu adalah fitnah besar.
Namun, setan membisikkan celah “kebaikan”. Ia akhirnya setuju dengan syarat wanita itu tinggal di rumah terpisah di belakang tempat ibadahnya, dan ia hanya akan mengantarkan makanan dari jauh.
Tahapan Manipulasi Bisikan Setan
Baca Juga: Menjadi Hamba Dunia atau Hamba Tuhan?
Langkah Pertama: Setan membisikkan agar Barsisa tidak hanya meletakkan makanan, tetapi juga mengetuk pintu untuk memastikan wanita itu tidak sakit.
Langkah Kedua: Setelah itu, setan membisikkan agar Barsisa mengajaknya bicara sesekali dengan dalih kasihan karena wanita itu kesepian dan bisa stres.
Langkah Ketiga: Godaan ditingkatkan dengan bujukan untuk mengajaknya duduk-duduk bersama, karena kasihan ia tidak pernah melihat orang lain.
Dari langkah-langkah kecil yang terbungkus rasa kasihan ini, terjadilah perbuatan zina dan lahirnya seorang anak. Setan kemudian tidak berhenti, ia menanamkan rasa takut dalam diri Barsisa. Dengan dalih agar kejahatannya tidak terbongkar, setan menyuruhnya untuk membunuh bayi yang tidak berdosa itu, lalu membunuh sang wanita, dan mengubur keduanya.
Ketika para saudara wanita itu kembali, Barsisa berbohong bahwa adik mereka meninggal karena sakit. Namun, setan membongkar kejahatan itu melalui mimpi ketiga pemuda tersebut.
Akhirnya, Barsisa ditangkap dan dihukum salib. Di puncak penderitaannya, setan datang dalam wujud aslinya dan menawarkan keselamatan dengan satu syarat: sujud kepadanya satu kali saja.
Dalam keadaan putus asa, Barsisa pun melakukannya. Setelah Barsisa sujud, setan langsung berlepas diri dan meninggalkannya. Pada akhirnya, Barsisa tidak hanya mati sebagai seorang pezina dan pembunuh, tetapi ia mati dalam keadaan kafir kepada Allah.




