Harmantajang.com – Manusia memiliki kecenderungan untuk memperturutkan hawa nafsu dan syahwat. Namun kita diperintahkan untuk menahannya, mengekangnya serta memasuki usia senja ketaatan jangan pudar.
Memasuki Usia Senja Ketaatan Rasullulah Tidak Pudar
Ketika seseorang memasuki usia senja, ketaatannya semakin bertambah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tahu dalam kehidunya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memurojaah hafalannya bersama dengan jibril.
Namun ditahun beliau akan meninggal dunia beliau memurojaah dan mengulangi hafalannya 2 kali kepada malaikat Jibril ‘Alaihissalam. Beliau semakin giat beribadah kepada Allah dan ini adalah tuntunan bagi kita semua jangan pernah kendor dalam ibadah kepada Allah.
Tenaga boleh berkurang tetapi mumpung kita masih muda pergunakan dengan sebaik-baiknya karena ada suatu masa seseorang tidak mampu mengerjakan semua ibadah. Namun barangsiapa yang sejak mudanya dia terbiasa dengan ibadah maka Allah akan memberikan taufik kepadanya.
Baca Juga: Bertawakkallah, Jangan Khawatir Allah selalu Bersamamu
Andaikan pun dia tidak mampu mengerjakan semuanya maka dituliskan pahala baginya sebagai bonus diusia senjanya walaupun dia tidak mengerjakannya lagi karena sudah lemah, syaratnya selama dia rutin mengerjakannya diusia muda dan ini makna firman Allah Subhanahu wata’ala:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ , ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ,إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (QS. At- Tin: 4-6).
Insha Allah, Kebaikan itu Tidak Terputus
Allah menciptakan manusia dari yang lemah menjadi kuat dan yang kuat menjadi lemah dan menjadi tua sehingga tidak mampu mengurus dirinya. Beruntunglah bagi mereka yang mengerjakan amalan sholeh mereka akan mendapatkan pahala yang tidak akan terputus.
Pahala tersebut terus menerus walaupun mereka sudah tua atau sakit sehingga tidak mampu mengerjakan ibadah secara rutin. Misalnya ketika muda dia rajin mengerjakan puasa Senin Kamis, puasa Ayyamul Bidh tidak pernah ia tinggalkan begitupula Qiyamullail.
Ketika ia sudah tua mulai sakit-sakitan sehingga ia tidak bisa mengerjakan semua itu. Namun Allah menuliskan untuknya pahala yang sempurna walaupun ia tidak mengerjakannya dengan syaratnya dia rutin mengerjakannya ketika dia sehat, begitu pula dalam berdakwah, jangan kita mengatakan::
”Saya ini sudah lewat masanya karena sudah tua biarkan yang lain melanjutkan”, tidak demikian justru Nabi berdakwah diakhir-akhir umur beliau.
Bahkan disebutkan dalam hadist berikutnya, yang menyebutkan bahwa wahyu paling banyak turun diakhir-akhir kehidupan Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam sebagaimana dalam hadist yang ke 115 hadist ke 4, Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:
“Sesungguhnya Allah ‘Azzawajalla senantiasa mengikutkan terus sambung-menyambung dalam menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. sebelum wafatnya sehingga beliau itu wafat, di situlah sebagian besar wahyu diturunkan.” (Muttafaq ‘alaih).
Seluruh Kebaikan itu Akan Terbalaskan
Jadi Allah menurunkan wahyu tetapi banyak wahyu yang diturunkan diakhir-akhir kehidupan beliau apalagi Allah Subhanahu wata’ala hendak menyempurnakan agamanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, puncaknya ketika Allah menurunkan:
Baca Juga: Penciptaan Manusia dan Terjadinya Hari Kiamat (Tadabbur Surah Al-Ghasyiyah)
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Maidah: 3).
Dan puncaknya yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al-Baqarah: 281).
Inilah nasehat yang paling terakhir yang Allah turunkan kepada Nabinya di dalam Al-Qur’an kepada kita semua dalam surah Al-Baqarah. Persiapkan diri-diri kalian sebelum kalian kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan amalan-amalan sholeh:
…..وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَا
Artinya: “…..Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Baqarah: 197).
الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. (QS. Al-Mu’min: 17).
Siapa yang mengerjakan kebaikan dia akan melihat balasannya walaupun seberat biji dzarrah begitupula sebaliknya siapa yang mengerjakan keburukan dia akan melihat balasannya walaupun seberat biji dzarrah.




