Harmantajang.com – Setiap hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah dinilai dari pangkat, jabatan, harta, paras, atau ketampanannya, melainkan dari kadar ketakwaannya. Maka, mempersiapkan kematian: bekal terbaik seorang mukmin menghadap Allah.
Pentingnya Menyahuti Seruan Allah
Sebuah kebahagiaan luar biasa adalah ketika Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa menyambut seruan dan panggilan Allah serta Rasul-Nya. Ini adalah pertanda bahwa Allah menginginkan kebaikan untuk kita.
Sebaliknya, orang yang berpaling dari peringatan dan panggilan Allah serta Rasul-Nya dikhawatirkan hatinya akan dihalangi dari hidayah dan petunjuk-Nya. Allah menyeru kita dalam Surat Al-Anfal Ayat 24:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَقَلْبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.
Setiap salat, kita memohon hidayah dan petunjuk dari Allah melalui doa “ihdinas sirotol mustaqim”. Bahkan dalam salat Jumat, Allah memerintahkan kita untuk segera mengingat Allah dan meninggalkan jual-beli serta aktivitas duniawi lainnya.
Menyambut seruan Allah untuk salat dan meninggalkan kesibukan dunia adalah lebih baik bagi kita. Penghuni surga pun kelak akan mengucapkan syukur,
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kami hidayah dan petunjuk, di mana tidak ada yang mampu memberikan Hidayah dan petunjuk kecuali dengan perkenaan dan izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala“.
Baca Juga: Dunia di Mata Islam: Antara Fana dan Ujian
Kengerian Hari Kiamat dan Naungan Allah
Kita mengetahui jarak matahari dan bumi sekitar 150 juta kilometer, namun kita sudah merasakan panas yang luar biasa. Bayangkan, di hari kiamat nanti, matahari akan didekatkan di ubun-ubun kita.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menceritakan bahwa ada manusia yang berenang di atas keringatnya, ada yang keringatnya sampai pinggang, bahkan sampai hidungnya. Ini adalah pemandangan yang sangat menakutkan.
Namun, di tengah kepayahan dan panas yang luar biasa itu, ada beberapa golongan manusia yang akan mendapatkan naungan langsung dari Allah Azza wa Jalla. Di antara mereka adalah seseorang yang hatinya bergantung dengan mesjid-mesjid Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka adalah lelaki-lelaki pilihan yang tidak dilalaikan oleh perdagangan atau bisnis mereka dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan mengeluarkan zakat. Mereka adalah orang-orang yang takut akan satu hari yang dijanjikan oleh Allah.
Datang Sendirian Menghadap Allah
Di hari kiamat, setiap di antara kita akan datang menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri-sendiri. Kita tidak akan mampu diberikan syafaat atau pertolongan oleh siapa pun kecuali yang diizinkan Allah.
Allah berfirman Surat Al-An’am Ayat 94:
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقْنَٰكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَٰكُمْ وَرَآءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ ۚ لَقَد تَّقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمْ تَزْعُمُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).
Segala yang kita kumpulkan di dunia, seperti rumah yang megah, kendaraan mahal, bahkan keluarga yang kita cintai, akan kita tinggalkan. Tidak ada lagi hubungan atau pertolongan yang dapat diharapkan dari mereka.
Yang tersisa hanyalah amalan-amalan saleh yang kita kerjakan. Oleh karena itu, kita harus berbahagia, bersyukur, dan memohon kepada Allah agar diistiqomahkan dalam ketaatan ini, karena Dia-lah yang membolak-balikkan hati seorang hamba.
Baca Juga: Kekuatan Istighfar: Solusi Dunia Akhirat
Kematian adalah Keniscayaan
Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Kematian tidak dapat dihindari atau ditunda, “di mana saja kalian berada, kematian akan mendapati kalian, sekalipun kalian di dalam benteng yang tinggi dan kokoh”.
Malaikat maut tidak akan melalaikan tugasnya. Ketika nyawa telah sampai di kerongkongan, tidak peduli berapa biaya yang dikeluarkan atau dokter paling ahli yang didatangkan, kematian tidak dapat dihindari.
Kematian adalah keniscayaan yang tidak memandang kaya atau miskin, tua atau muda. Pertanyaan utamanya adalah: “apa yang kita persiapkan untuk menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?“.
Akhirat, Surga dan Neraka Barangsiapa yang datang menghadap Tuhannya dalam keadaan berbuat dosa, ia akan mendapatkan neraka Jahanam. Di dalamnya, ia tidak hidup dan tidak mati. Mereka akan berseru kepada penjaga neraka.
Sebaliknya, barangsiapa yang datang menghadap kepada Allah dalam keadaan beriman dan selama hidupnya mengerjakan amalan-amalan saleh, mereka akan mendapatkan tempat yang tinggi di dalam surga (Darajat).
Surga itu bertingkat-tingkat ke atas, sebagaimana neraka bertingkat-tingkat ke bawah, dengan orang-orang munafik di kerak api neraka paling bawah. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam Jannatul Firdaus, surga yang paling tinggi, bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.




