Menanam Jejak Kebaikan: Perjalanan yang Dimulai Setelah Mati

Jejak
Ilustrasi jejak kaki di Pantai/Unplash

Harmantajang.com – Kehidupan manusia di dunia tidak lebih dari perjalanan singkat seorang musafir, untuk itu menanam jejak kebaikan, perjalanan yang dimulai setelah mati.

Setiap langkah, pilihan, dan amal yang dilakukan selama hidup menjadi jejak yang akan dibawa menuju kehidupan setelah mati. 

Menjadi Hamba yang Musafir

Kehadiran kita di dunia bukanlah sekadar untuk lahir dan hidup, melainkan untuk menjadi seorang musafir yang diberi kesempatan mengumpulkan bekal sebanyak mungkin untuk pulang menuju kampung halaman kita yang sesungguhnya, yaitu Negeri Akhirat.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menggambarkan bahwa semua manusia sejak diciptakan adalah para musafir, dan perjalanan mereka baru akan berhenti ketika mereka telah masuk ke dalam Surga atau Neraka.

Meskipun kita meyakini fakta ini, kesibukan dan daya tarik dunia seringkali membuat kita lupa. Kita mudah lupa bahwa kita hanya sebentar di dunia, bahwa kita akan mati dan meninggalkan dunia, dan bahwa kita akan mempertanggungjawabkan segalanya. 

Kelupaan ini bisa terjadi hanya karena tawaran harta haram bermiliar-miliar rupiah, karena tergiur kecantikan duniawi yang juga akan mati, atau karena terbius oleh kesenangan dunia yang tidak lama lagi akan habis. 

Oleh karena itu, kita selalu membutuhkan nasihat dan peringatan agar kembali tersadar tentang tujuan keberadaan kita di dunia.

Catatan Abadi: Amalan dan Jejak Dampaknya

Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita melalui firman-Nya dalam Surah Yasin ayat 12:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ

Artinya: Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Ayat ini menekankan tiga hal penting, pertama: Kita akan mati, namun kematian bukanlah akhir segalanya; kita akan dihidupkan kembali pada Hari Kiamat. Kedua, Semua yang kita lakukan di dunia baik atau buruk, ibadah atau maksiat akan dicatat oleh Allah dengan sempurna dalam catatan yang sangat jelas.

Baca Juga: Akhirat Tak Mengenal Alasan: Semua Akan Diadili!

Ketiga, Tidak hanya perbuatan, Allah juga akan mencatat jejak dan dampak yang diakibatkan oleh perkataan dan perbuatan kita itu.Jika perkataan dan perbuatan seseorang meninggalkan jejak dan dampak kebaikan, maka catatan kebaikannya akan berlimpah-limpah.

Sebaliknya, jika perkataan dan perbuatan hanya meninggalkan jejak dan dampak kemaksiatan, atau menjadi inspirasi bagi orang lain untuk berbuat dosa, maka catatan dosa akan terus mengalir deras (wal ‘iyadzu billah).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ, فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” [HR. Muslim].

Namun siapa saja yang memberikan contoh keburukan di dalam Islam, maka ia akan memikul dosanya, dan dosa siapa saja yang mengerjakan keburukan itu sepeninggalnya, tanpa dikurangi dosa mereka sedikitpun”.

Tujuh Jejak Kebaikan yang Tak Terputus

Mengingat waktu kita yang terbatas dan ketidakpastian hari esok, sangat penting untuk segera bertaubat (menghapus jejak hitam) dan menyiapkan jejak-jejak kebaikan yang akan kita tinggalkan.

Baca Juga: Manusia-manusia yang Merugi dalam Hidupnya!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menguraikan tujuh amalan yang pahalanya akan terus mengalir untuk seorang hamba setelah kematiannya, saat ia berada di dalam kuburnya:

Siapa saja yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sumber air, menggali sumur, menanam sepohon kurma, membangun masjid, mewariskan sebuah mushaf (Al-Qur’an) dan meninggalkan seorang anak yang selalu beristighfar untuknya setelah kematiannya.

Banyak peluang dan kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan dalam catatan amalan kita, dan yang terpenting adalah jejak keshalihan itu dicatat oleh Allah Azza wa Jalla, tanpa perlu mengharapkan apresiasi manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here