Menata Niat: Pentingnya Ikhlas dalam Setiap Ketaatan

Alam semesta
Ilustrasi alam semesta cerah/Istock

Harmantajang.comSeperti diketahui, ikhlas adalah inti dari setiap amal untuk itu menata niat: pentingnya ikhlas dalam setiap ketaatan. Tanpanya, ketaatan hanya menjadi rutinitas kosong tanpa nilai di sisi Allah. 

Kedudukan Sentral Hati (Al-Qalbu) 

Dalam tubuh manusia, hati adalah bagian yang paling besar kedudukannya, paling besar pengaruh dan dampaknya, paling detil urusannya, dan paling rumit kondisinya. Hati diibaratkan sebagai penguasa yang dipatuhi oleh seluruh anggota tubuh.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang menegaskan kedudukan hati: 

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, bahwa dalam tubuh itu adalah segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Namun jika ia rusak, maka seluruh tubuh pun akan ikut menjadi rusak. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah hati merupakan ibadah pokok yang mendasari semua ibadah yang dilakukan oleh jasad. Keshalihan jasmani sangat bergantung pada keshalihan hati.

Baca Juga: Menanam Jejak Kebaikan: Perjalanan yang Dimulai Setelah Mati

Jika hati menjadi shalih dengan ketaqwaan dan keimanan, maka jasmani seluruhnya akan shalih dengan ketaatan dan ketundukan pada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ

“Tidak akan istiqamah keimanan seorang hamba hingga hatinya menjadi istiqamah.” (HR. Ahmad secara hasan)

Penentu Keselamatan Akhirat 

Keselamatan kita di Hari Kiamat sangat ditentukan oleh kelurusan dan kebersihan hati. Allah Ta’ala mengaitkan keselamatan di akhirat dengan hati yang bersih (Qalbin Salīm). Allah berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara Ayat 88:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

Artinya: (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna.

Oleh karena itu, kita harus menjaga hati kita bersih dari penyakit hati, mulai dari syirik hingga dengki dan hasad.

Sifat Hati yang Berbolak-balik 

Pentingnya memperhatikan hati diperkuat oleh karakternya yang khas, yaitu mudahnya ia berbolak-balik dan berubah. Hati (al-Qalbu) dalam bahasa Arab disebut demikian lantaran mudahnya ia berbolak-balik. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa hati anak cucu Adam itu “lebih mudah berubah daripada (kondisi) sebuah panci yang isinya menggelegak panas” (HR. Ahmad, secara shahih).

Baca Juga: Akhirat Tak Mengenal Alasan: Semua Akan Diadili!

Karena urusan hati begitu halus, berbahaya, dan sangat menentukan, maka kita harus berhati-hati dan waspada terhadap perubahannya.

Perjuangan Melawan Ketergelinciran Hati 

Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia hebat, beliau sangat mengkhawatirkan urusan hati dan memperbanyak doa memohon keteguhan di atas agama dan keimanan. Doa yang sering beliau ucapkan adalah:

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati! Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”.

Ketika ditanya mengapa beliau sering berdoa demikian, beliau menjelaskan bahwa hati manusia berada di antara kedua jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sekehendak-Nya.

Tidak ada seorang pun bahkan orang yang shalih dan bertaqwa yang dapat merasa aman dari kebutuhan akan doa ini, karena amalan bergantung pada akhirnya, dan ketergelinciran hati sangat berbahaya, yang bisa berujung pada hati yang tertutup bahkan mati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here