Home Adab & Akhlak Meneladani Hakikat Tawakal dan Rasa Syukur dalam Kehidupan

Meneladani Hakikat Tawakal dan Rasa Syukur dalam Kehidupan

berdoa
Seorang sedang berdoa/Pinterset

Harmantajang.com – Kehidupan seorang mukmin senantiasa dan akan selalu berputar pada poros pengabdian kepada hanya kepada Allah.

Dalam setiap langkahnya, terdapat nikmat yang harus disyukuri, petunjuk yang harus dijaga, dan keyakinan akan pengaturan Allah yang sempurna dalam setiap ujian yang menghadang.

Hakikat Hidayah: Anugerah Terbesar yang Bersifat Prerogatif

Hidayah adalah nikmat paling mahal yang dimiliki seorang hamba. Perlu dipahami bahwa terdapat jenis hidayah yang disebut Hidayatul Taufiq, yaitu petunjuk untuk mengamalkan kebenaran yang sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah

Bahkan seorang Nabi sekalipun tidak mampu memberikan hidayah ini kepada orang yang paling dicintainya, sebagaimana Rasulullah SAW tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya, Abu Thalib.

Oleh karena itu, setiap Muslim wajib menjaga hidayah yang telah diterimanya dengan terus berdoa agar diberikan keistikamahan.

Salah satu doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an adalah “Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idzhadaitana” yang memohon agar Allah tidak memalingkan hati setelah memberi petunjuk.

Baca Juga: Pembinaan dan Menata Hati di Dunia untuk Akhirat

Kesadaran akan mahalnya hidayah ini seharusnya mendorong kita untuk segera beramal saleh sebelum datangnya fitnah yang dapat mengguncang keimanan.

Kekuatan Tawakal dalam Pengaturan Allah yang Sempurna

Kisah Nabi Musa memberikan pelajaran mendalam tentang bagaimana Allah mengatur segala sesuatu dengan cara yang sering kali tidak terduga oleh logika manusia.

Ketika ibu Nabi Musa merasa khawatir akan keselamatan bayinya dari ancaman Firaun, Allah memberikan ilham untuk menghanyutkan bayi tersebut ke sungai Nil dengan janji bahwa Dia akan mengembalikannya.

Meskipun terlihat berbahaya, tindakan tersebut merupakan bentuk tawakal yang tinggi. Pengaturan Allah terbukti sempurna saat bayi Musa justru ditemukan oleh keluarga Firaun dan akhirnya kembali ke pelukan ibunya untuk disusui.

Hal ini mengajarkan bahwa ketika seorang hamba meletakkan kepercayaan penuh kepada Allah dengan berkata, “Inna ma’iya Rabbi sayahdin” (Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk).

Manifestasi Syukur dan Pertanggungjawaban Atas Nikmat

Setiap nikmat yang dirasakan di dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Rasulullah memberikan teladan tertinggi dalam bersyukur; meski beliau telah dijamin pengampunan dosa, beliau tetap meningkatkan ibadah malamnya hingga kaki beliau pecah-pecah.

Baca Juga: Hakikat Umur: Antara Kuantitas Usia dan Kualitas Amal

Saat ditanya alasannya, beliau menjawab dengan rendah hati, “Apakah tidak pantas aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”.

Selain melalui ibadah pribadi, rasa syukur juga dapat diwujudkan melalui amal sosial, seperti memberi makan orang lain yang mendatangkan doa serta selawat dari para malaikat.

Di sisi lain, hamba yang beriman juga harus waspada terhadap kezaliman, karena Allah tidak pernah lalai terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang zalim.

Allah mungkin menangguhkan hukuman bagi mereka, namun jika kezaliman terus berlanjut, kehancuran pasti akan menimpa sebagai bentuk keadilan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here