Home Sirah Menggapai Keberkahan Muharram dengan Amalan yang Dianjurkan

Menggapai Keberkahan Muharram dengan Amalan yang Dianjurkan

Bulan
Ilustrasi bulan di langit/Istock

Harmantajang.com – Bulan Muharram merupakan salah satu momentum agung dalam kalender Islam yang sarat akan kemuliaan dan keistimewaan.

Sebagai umat Muslim, memahami kedudukan bulan ini dan amalan apa saja yang dianjurkan di dalamnya adalah kunci untuk meraih ketakwaan yang hakiki.

Mengenal Kemuliaan Muharram sebagai “Syahrullah”

Bulan Muharram memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena Allah dan Rasulullah menyandarkan penyebutan bulan ini langsung kepada Allah, yaitu Syahrullahil Muharram (Bulannya Allah).

Dalam kaidah bahasa, penyandaran sesuatu kepada Allah (idofatu tasyrif) menunjukkan kemuliaan dan keutamaan luar biasa dari sesuatu tersebut, sebagaimana istilah Baitullah (Rumah Allah) atau Naqatullah (Unta Allah).

Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (arbaatun hurum) dari total dua belas bulan yang ditetapkan Allah sejak penciptaan langit dan bumi.

Baca Juga: Pembinaan dan Menata Hati di Dunia untuk Akhirat

Mengagungkan bulan ini merupakan tanda ketakwaan dalam hati seorang hamba, karena bulan ini adalah bagian dari syiar-syiar Allah yang wajib dihormati.

Larangan Berbuat Zalim dan Bahaya Kebangkrutan Hakiki

Di dalam bulan-bulan haram, termasuk Muharram, Allah memberikan peringatan khusus dalam Al-Qur’an: “Janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri”.

Kezaliman pada diri sendiri bermakna melakukan kemaksiatan, karena dengan bermaksiat, seseorang sebenarnya sedang membukakan pintu azab bagi dirinya sendiri.

Rasulullah memperingatkan tentang orang yang bangkrut (muflis) di hari kiamat, yaitu orang yang datang membawa banyak pahala salat, puasa, dan zakat, namun ia pernah memukul, mengambil harta, atau menyakiti orang lain.

Di akhirat kelak, pahala kebaikannya akan diambil untuk membayar kezaliman tersebut hingga habis, dan jika pahalanya sudah tidak tersisa, dosa orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya sebelum ia dilemparkan ke neraka.

Kezaliman yang paling besar yang harus dijauhi adalah kesyirikan, karena ia merupakan dosa yang mengundang kemurkaan Allah.

Baca Juga: Hakikat Umur: Antara Kuantitas Usia dan Kualitas Amal

Memperioritaskan Amalan Wajib dan Menambah Amalan Sunnah (Nafilah)

Di waktu-waktu mulia seperti bulan Muharram, setiap Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ketaatan dengan urutan prioritas yang benar:

Pertama, Menjaga Amalan Wajib: Amalan wajib adalah hal pertama yang akan dihisab dan merupakan amalan yang paling dicintai Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Tidak boleh meremehkan yang wajib demi mengejar yang sunnah; misalnya, tidak boleh meninggalkan salat Subuh berjamaah hanya karena kelelahan setelah melakukan qiyamulail semalam suntuk.

Kedua, Memperbanyak Amalan Sunnah (Nafilah): Amalan nafilah (tambahan) seperti salat rawatib dan puasa sunnah berfungsi untuk menutupi kekurangan pada amalan wajib saat hari kiamat nanti.

Selain itu, konsistensi dalam mengamalkan hal-hal sunnah adalah jalan utama untuk meraih cinta Allah.

Dengan menjaga diri dari kezaliman dan meningkatkan kualitas ibadah, kita berharap meraih keselamatan, sebagaimana keinginan sahabat Rabiah Ibn Ka’ab yang memohon agar bisa menemani Rasulullah di dalam surga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here