Harmantajang.com – Banyak orang yang secara fisik tampak hidup, sibuk mengejar ambisi dunia, dan pandai membahas berbagai berita viral, namun sebenarnya hatinya “mati” karena jauh dari Allah.
Dzikir kepada Allah adalah amal yang sangat ringan di lisan, namun memiliki timbangan yang sangat agung di akhirat.
Ia merupakan kebutuhan dasar bagi jiwa manusia, sebagaimana air yang menjadi kebutuhan pokok bagi kehidupan ikan.
Dzikir sebagai Pembeda Antara Hidup dan Matinya Hati
Rasulullah menggambarkan perbedaan antara orang yang berdzikir dan yang lalai seperti perumpamaan antara orang yang hidup dan orang yang mati.
Baca Juga: Kelak Tiada Lagi Tempat Sembunyi: Renungan Menghadapi Hari Pembalasan
Dalam Al-Qur’an, Allah secara khusus memuji mereka yang banyak mengingat Allah, karena di tengah hiruk-pikuk kesibukan dunia seperti pekerjaan dan media sosial, hati manusia sangat mudah menjadi lalai.
Dzikir bukan sekadar gerakan lisan, melainkan tanda hidupnya hati di mana lisan menyebut Allah, hati menghadirkan keagungan-Nya, dan anggota badan diarahkan untuk taat kepada-Nya.
Allah pun telah menjanjikan ampunan serta pahala yang besar bagi laki-laki dan perempuan yang senantiasa membasahi lisan mereka dengan menyebut nama-Nya.
Menemukan Kedamaian di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
Di zaman sekarang, kita sangat membutuhkan dzikir bukan hanya karena banyaknya masalah, tetapi karena begitu banyak hal yang melalaikan, mulai dari notifikasi ponsel hingga percakapan yang sia-sia.
Dzikir berfungsi sebagai pagar, cahaya, dan rem bagi lisan agar tidak terjerumus dalam ghibah atau kemaksiatan lainnya. Melalui dzikir, seorang hamba dapat meraih ketenangan hati yang hakiki.
Ketenangan ini bukan berarti hilangnya semua masalah hidup, melainkan kondisi di mana hati tetap teguh bergantung kepada Allah meskipun sedang berada di tengah ujian yang berat.
Membangun Istiqamah dalam Berdzikir di Setiap Keadaan
Dzikir adalah bekal sebelum datangnya kesempitan, penolong saat sempit, dan penguat setelah kesulitan berlalu. Belajarlah dari kisah Nabi Yunus AS yang tetap bertasbih saat berada dalam kegelapan perut ikan, hingga akhirnya Allah menyelamatkannya.
Baca Juga: Mengenal Hikmah di Balik Takdir: Menyelami Rahasia Ketetapan Allah
Oleh karena itu, jangan menunggu sakit, usia tua, atau tertimpa musibah untuk mulai mengingat Allah. Untuk menjaga konsistensi, kita dapat mengamalkan doa yang diajarkan Rasulullah kepada Mu’adz bin Jabal:
“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.
Mulailah dengan menjaga dzikir setelah shalat, dzikir pagi dan petang, serta senantiasa membasahi lisan dengan kalimat tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar dalam setiap aktivitas sehari-hari.




