Harmantajang.com – Setiap manusia tidak pernah mengetahui bagaimana akhir kehidupannya di dunia ini, pentingnya Menjaga Hati dan Mempersiapkan Husnul Khatimah. Apakah ia akan ditutup dengan kebaikan (husnul khatimah) atau justru dengan keburukan (su’ul khatimah).
Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal tersebut selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ketidaktahuan itulah, seorang hamba seharusnya senantiasa bergantung dan berdoa kepada Dzat yang menggenggam hati dan jiwa.
Hati Manusia Lemah dan Mudah Berubah
Hati adalah sesuatu yang paling cepat berubah. Hari ini seseorang bisa berada dalam ketaatan, esok hari bisa tergelincir dalam kemaksiatan. Godaan hawa nafsu dan bisikan setan tidak pernah berhenti.
Allah berfirman dalam Surat Ar-Rum Ayat 30:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Baca Juga: Dosa Besar di Balik Fitnah dan Tuduhan Dusta!
Baik setan dari kalangan jin maupun manusia bekerja sama untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah. Seorang ulama salaf memberikan perumpamaan: jika ada anjing yang terus mengganggu kita, apakah kita akan terus mengusirnya setiap hari? Tidak.
Kematian adalah Kepastian yang Sering Dilupakan
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Allah berfirman dalam Surat Qaf Ayat 19:
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Artinya: Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.
Saat nyawa telah sampai di kerongkongan, tidak ada lagi dokter, tidak ada lagi harta, tidak ada lagi kekuasaan yang mampu menolong Kita semua yakin akan kematian. Kita melihat orang tua kita wafat.
Kita menyaksikan kerabat dan sahabat meninggal dunia. Namun sering kali kita hidup seakan-akan tidak akan mati. Rasulullah bersabda ketika ditanya siapa mukmin yang paling cerdas:
“Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya.” (HR. Ibnu Majah, hasan)
Mengingat kematian akan membuat yang luas terasa sempit (dunia tidak lagi mempesona berlebihan) dan membuat yang sempit terasa luas (ujian terasa ringan karena sadar semua akan berakhir).
Akhir Kehidupan Ditentukan oleh Cara Kita Hidup
Allah berfirman dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 102:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: siapa yang hidup dalam ketaatan, biasanya akan dimatikan dalam ketaatan. Dan siapa yang dimatikan dalam ketaatan, akan dibangkitkan bersama orang-orang yang taat.
Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub ‘alaihimassalam bahkan mewasiatkan kepada anak-anak mereka agar tidak mati kecuali dalam keadaan Islam.
Baca Juga: Surga, Tingkatan Penghuninya, dan Golongan Istimewa di Sisi Allah
Rasulullah bersabda dalam riwayat lain disebutkan:
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607).
Inilah yang menentukan penutup kehidupan. Maka jangan tertipu dengan amal hari ini. Jangan merasa aman dengan kebaikan saat ini. Yang harus kita jaga adalah istiqamah hingga akhir hayat dan perbanyak doa agar diteguhkan hati.




