Harmantajang.com – Seperti diketahui, dalam Islam hati tidak sekadar organ fisik tetapi juga menjadi titik sentral dari nilai ibadah dan kesadaran niat seorang manusia. Untuk itu, mari menjaga hati, kunci menuju ketakwaan.
Hati Ibarat Sang Raja bagi Tubuh Manusia
Hati adalah penguasa yang dipatuhi (oleh seluruh anggota tubuh). Maka jika “sang raja” itu lurus dan baik, maka seluruh “rakyat”nya pun akan ikut demikian. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, bahwa dalam tubuh itu adalah segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Namun jika ia rusak, maka seluruh tubuh pun akan ikut menjadi rusak. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, sangat jelas bahwa ibadah hati merupakan ibadah pokok yang menjadi dasar atas semua ibadah yang dilakukan oleh jasad manusia.
Karenanya, keshalihan jasmani itu sangat bergantung pada keshalihan hati manusia. Jika hati menjadi shalih dengan ketaqwaan dan keimanan, maka jasmani pun seluruhnya menjadi shalih dengan ketaatan dan ketundukan pada Allah.
Baca Juga: Teguh dalam Ketaatan, Jalan Menuju Akhirat!
Hati Istiqamah, Keimanan Terjaga!
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ
“Tidak akan istiqamah keimanan seorang hamba hingga hatinya menjadi istiqamah.” (HR. Ahmad secara hasan).
Tidak hanya itu, bahkan Allah Ta’ala sendiri telah mengaitkan keselamatan di Hari Kiamat dengan kelurusan dan kebersihan hati manusia. Allah Ta’ala berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari dimana tidak bermanfaat harta dan anak keturunan, kecuali yang datang menemui Allah dengan hati yang bersih/lurus.” (Surah al-Syu’ara: 88-89).
Di antara hal yang juga menguatkan pentingnya memperhatikan hati adalah bahwa karena salah satu sifat hati yang paling menonjol dan karakternya yang khas adalah mudahnya ia berbolak-balik dan berubah.
Hati itu sangat mudah berubah, berganti dan berbalik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّبًا مِنَ القِدْرِ؛ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلَيَانًا
“Sungguh hati anak cucu Adam itu lebih mudah berubah daripada (kondisi) sebuah panci yang isinya menggelegak panas.” (HR. Ahmad, secara shahih).
Dan hati itu (dalam bahasa Arab disebut) al-Qalbu lantara mudahnya ia berbolak-balik. Karena itu, kita harus berhati-hati dan waspada terhadap berganti dan berbolak-baliknya hati itu.
Karena penting dan urgennya persoalan ini, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak doa memohon keteguhan di atas jalan agama dan keimanan.
Ya Allah, Teguhkanlah Hatiku di atas Agama-Mu
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu banyak berdoa dengan mengucapkan:
يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
‘Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati! Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
Baca Juga: Zaman Penuh Fitnah, Tetap Menjaga Lisan dan Tulisan
Maka aku pun bertanya: ‘Wahai Rasulullah! kami telah beriman kepadamu dan kepada semua yang Anda bawa. Apakah Anda khawatir dengan kami?’ Beliau menjawab:
نَعَمْ؛ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أَصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
‘Tentu saja, (karena) sesungguhnya hati itu berada di antara 2 jari di antara jemari Allah, Dia akan membolak-balikkannya sekehendakNya.’” (HR. al-Tirmidzi secara shahih).
Karena itu, salah satu doa kaum beriman yang harus selalu kita ulang adalah doa yang berbunyi:
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau gelincirkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami .
Tidak ada seorang pun yang dapat berlepas diri dari doa ini, meskipun ia adalah seorang yang shalih dan bertaqwa; karena hati itu selalu berbolak-balik, dan amalan-amalan kita sangat bergantung pada bagaimana akhirnya.
Sehingga ketergelinciran hati itu adalah bencana yang sangat besar, ketertipuannya sangat berbahaya. Bermula dari ketergelinciran dari Allah Ta’ala, namun penghujung dan akhirnya adalah hati yang tertutup hingga kemudian menjadi hati yang mati.




