Home Aqidah Menjaga Kemuliaan Diri dari Godaan Iblis

Menjaga Kemuliaan Diri dari Godaan Iblis

Sujud
Seorang sedang Sujud/Unplash

Harmantajang.com – Permusuhan sejati dalam kehidupan manusia bukanlah terjadi antar sesama makhluk, melainkan permusuhan antara manusia dengan iblis yang telah bersumpah untuk menyesatkan anak cucu Nabi Adam.

Inti dari perselisihan ini berawal dari penolakan iblis untuk menunaikan perintah Allah agar bersujud kepada Nabi Adam.

Melalui pemahaman akan akar permusuhan ini, kita dapat menarik pelajaran penting tentang bagaimana menjaga kemuliaan diri sebagai hamba Allah.

Akar Permusuhan: Kesombongan dan Kedengkian Iblis

Iblis diusir dari surga dan dijauhkan dari rahmat Allah karena keengganannya untuk bersujud kepada Nabi Adam alaihissalam.

Alasan di balik penolakan tersebut adalah kesombongan (kibr), di mana iblis merasa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah.

Perkataan iblis ‘Aku lebih baik darinya’, menjadi awal mula dosa di langit, yang kemudian diikuti oleh penyakit hasad (iri hati). Iblis kemudian bersumpah di hadapan Allah untuk menghalangi manusia dari jalan yang lurus sebagai bentuk balas dendam.

Baca Juga: Menyucikan Hati, Menggapai Ridha Sang Ilahi

Karena hasad tingkat tinggi ini, iblis berusaha agar manusia juga masuk ke dalam neraka bersamanya, meski pada hari kiamat kelak ia akan berlepas tangan dan membiarkan para pengikutnya menanggung penyesalan sendiri di dalam neraka.

Keutamaan Sujud: Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah dan Rasul-Nya

Sujud merupakan bentuk kepatuhan tertinggi seorang hamba kepada penciptanya. Di dalam sujud, terdapat puncak kemuliaan seorang hamba di sisi Allah.

Nabi Muhammad menjelaskan bahwa satu kali sujud saja dapat mengangkat satu derajat seorang hamba di sisi Allah. Keutamaan sujud juga mencakup kedekatan dengan Rasulullah di akhirat.

Hal ini tercermin dalam kisah sahabat Rabiah bin Ka’ab al-Aslami yang meminta agar bisa menemani Nabi di surga; Nabi kemudian menyarankan kepadanya untuk memperbanyak sujud.

Sebaliknya, bagi mereka yang enggan bersujud di dunia, Allah akan menghinakan mereka pada hari kiamat dengan membuat punggung mereka kaku sehingga tidak mampu bersujud saat diperintahkan di padang mahsyar.

Membentengi Diri dari Tipu Daya Setan

Setan memiliki strategi yang matang karena ia telah mempelajari berbagai jenis manusia sejak zaman Nabi Adam.  Ia menyerang manusia melalui berbagai pintu seperti harta, jabatan, dan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.

Baca Juga: Menjemput Keabadian: Kematian, Amal, dan Bekal Akhirat

Untuk menghadapi musuh yang tidak terlihat ini, seorang mukmin tidak boleh mengandalkan kekuatannya sendiri, melainkan harus senantiasa meminta perlindungan kepada Allah sebagai “Pemilik” dari segala makhluk.

Salah satu benteng terkuat adalah dengan menjaga zikir secara konsisten, karena kelalaian dalam berzikir akan menjadikan setan sebagai teman dekat yang menyesatkan.

Selain itu, manusia perlu melatih sifat-sifat mulia seperti sabar dan santun (muktasabah) untuk melawan bisikan jiwa yang buruk (annafsul lawwamah) yang sering kali dipengaruhi oleh godaan setan.

Dengan tetap rendah hati dan menjauhi sifat hasad, seorang hamba dapat melindungi amal kebaikannya agar tidak terbakar seperti api memakan kayu bakar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here