Home Aqidah Menjemput Keabadian: Kematian, Amal, dan Bekal Akhirat

Menjemput Keabadian: Kematian, Amal, dan Bekal Akhirat

Langit terang
Ilustrasi Langit terang/Istock

Harmantajang.com – Kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapapun, tanpa memandang status sosial maupun jabatan.

Dalam pandangan Islam, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju kehidupan yang hakiki dan abadi di akhirat.

Kepastian Kematian dan Sifat Dunia yang Menipu

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Al-Qur’an menegaskan bahwa kematian akan mendatangi manusia di mana pun mereka berada.

Bahkan jika mereka berlindung di dalam benteng yang kokoh sekalipun. Malaikat maut yang diutus Allah tidak akan pernah lalai atau keliru dalam menjalankan tugasnya saat ajal telah tiba.

Baca Juga: Tiada yang Abadi: Menyelami Hakikat Kehidupan yang Fana

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu. Tidak ada satu pun manusia yang kekal di dunia ini, termasuk Rasulullah yang kematiannya sempat membuat gempar para sahabat.

Perjalanan Hidup Manusia dan Logika Hari Kebangkitan

Kehidupan adalah sebuah perjalanan yang dimulai dari keadaan lemah di dalam rahim ibu, kemudian diberikan kekuatan saat muda dan dewasa, kembali menjadi lemah dan beruban di masa tua.

Namun, perjalanan ini tidak berhenti di liang lahat. Allah telah menjanjikan adanya Hari Kebangkitan di mana semua manusia akan dibangkitkan dari kuburnya.

Secara logika, menghidupkan kembali sesuatu yang sudah pernah ada (manusia yang sudah mati) jauh lebih mudah bagi Allah daripada menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Allah adalah Zat yang menciptakan manusia dari saripati tanah dan setetes benih, maka Dia pula yang berkuasa merangkai kembali tulang-belulang yang telah hancur untuk dimintai pertanggungjawaban di hari akhir.

Amalan Saleh sebagai Bekal Utama di Hari Perhitungan

Setelah kematian menjemput, hal yang paling bermanfaat bagi seorang hamba bukanlah harta benda, pangkat, jabatan, maupun keluarga, melainkan iman dan amalan saleh yang telah dikerjakan.

Baca Juga: Meniti Jalan Menuju Surga Bersama Keluarga Tercinta

Ali bin Abi Thalib mengingatkan agar kita menjadi “anak-anak akhirat” dan bukan “anak-anak dunia”, karena dunia adalah tempat beramal tanpa hisab, sedangkan akhirat adalah tempat hisab tanpa ada lagi kesempatan beramal.

Penyesalan akan datang bagi mereka yang melalaikan syariat Allah dan hanya mengisi hidupnya dengan kemaksiatan.  Sebelum kesempatan itu tertutup, kita diperintahkan untuk segera bertaubat dan memperbaharui diri, berapapun besarnya dosa di masa lalu.

Selagi napas masih ada, manfaatkanlah setiap waktu seperti pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah untuk memperbanyak amalan saleh karena kita tidak pernah tahu amalan mana yang akan membawa kita kepada-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here