Mensyukuri Nikmat: Menggapai Keberkahan dan Menghindari Azab

Di masjid
Seorang sedang di Masjid/Unplash

Harmantajang.com – Mensyukuri nikmat, menggapai Keberkahan dan menghindari azab. Kehidupan manusia senantiasa dipenuhi dengan kucuran nikmat dari Allah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Allah telah menundukkan segala apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia, sehingga jika seseorang mencoba menghitung nikmat tersebut, niscaya ia tidak akan mampu.

Namun, nikmat ini menuntut sebuah kewajiban utama, yaitu kesyukuran, karena dengan bersyukur Allah menjanjikan tambahan nikmat, sementara kekufuran akan mendatangkan azab yang pedih.

Tiga Pilar Utama dalam Mensyukuri Nikmat Allah

Para ulama menjelaskan bahwa kesyukuran yang hakiki tidak hanya di lisan, tetapi harus dibuktikan melalui tiga hal utama:

Lisan: Membiasakan diri memuji Allah dengan ucapan “Alhamdulillah” setiap kali mendapatkan nikmat.

Ucapan ini pada hakikatnya lebih baik daripada nikmat itu sendiri karena pujian tersebut bersifat kekal di sisi Allah, sementara nikmat duniawi bersifat titipan yang suatu saat akan diambil kembali.

Hati: Mengakui sepenuhnya bahwa segala nikmat berasal dari Allah, bukan semata-mata karena kecerdasan atau kekuatan pribadi. Tanpa pengakuan hati, seseorang rentan terjatuh pada kesombongan.

Baca Juga: Akhir Zaman yang Semakin Nyata

Anggota Tubuh: Membuktikan syukur melalui amal saleh. Contoh nyata diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW yang melakukan shalat malam hingga kakinya bengkak sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.

Belajar dari Sejarah: Kerendahan Hati Sulaiman vs Kesombongan Qarun

Ada contoh perbandingan kontras tentang bagaimana manusia menyikapi nikmat besar:

Nabi Sulaiman AS: Meskipun diberikan kekuasaan atas jin, angin, dan hewan, beliau tetap rendah hati dan berdoa agar selalu diberi petunjuk untuk mensyukuri nikmat tersebut.

Beliau menyadari bahwa segala kemewahan itu adalah ujian untuk melihat apakah ia bersyukur atau kufur.

Qarun: Sebaliknya, Qarun yang memiliki harta berlimpah merasa bahwa kekayaannya adalah hasil kecerdasan dan kerja kerasnya sendiri.

Ia melupakan Allah dan enggan menunaikan hak-hak hartanya, hingga akhirnya Allah menenggelamkan ia beserta seluruh hartanya ke dalam bumi.

Memanfaatkan Kesempatan Sebelum Datangnya Penyesalan di Akhirat

Nikmat kesehatan dan umur sering kali baru terasa berharga saat mulai dicabut oleh Allah seiring bertambahnya usia, seperti mulai tumbuhnya uban dan menurunnya kekuatan fisik.

Baca Juga: Menjaga Hidayah dan Mempersiapkan Bekal Kematian

Oleh karena itu, sedekah yang paling afdal adalah yang dikeluarkan saat seseorang dalam kondisi sehat dan merasa kikir, bukan saat kematian sudah di depan mata.

Penyesalan di hari kemudian tidak akan lagi berguna. Orang-orang yang lalai akan memohon untuk dikembalikan ke dunia sesaat saja agar bisa bersedekah, namun permintaan itu akan ditolak.

Bahkan, penghuni neraka akan mengajukan proposal untuk dimatikan atau diringankan azabnya walau hanya sehari, namun Allah menegaskan bahwa kesempatan hidup dan peringatan telah diberikan selama di dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here